Pages

Selasa, 24 Juli 2018


Isu - Isu Lingkungan


KRISIS LAHAN PERTANIAN

Secara umum, negara-negara yang berhasil mengurangi tingkat kekurangan pangan dicirikan oleh pertumbuhan ekonomi yang cepat dan khususnya peningkatan yang tinggi pada sektor pertaniannya (Syahyuti, 2006: 124). Dalam konteks inilah, pertanian menjadi pilar penting sebagai basis menuju proses industrialisasi. Industrialisasi tidak seharusnya menyingkirkan sektor pertanian dan petaninya yang seringkali dinilai lamban dalam mengikuti perkembangan dan tidak menjadi investasi yang menguntungkan. Ekonomi berbasis pertanian tetap menjadi pilihan yang ideal untuk mempertahankan keberlanjutan pangan dibandingkan ekonomi ekstraktif yang berbasis pengerukan sumberdaya alam yang tentunya pada suatu periode akan habis dan tidak bisa tergantikan kembali, bahkan meninggalkan ongkos pemulihan ekologis yang sangat tinggi. Pertanian pula yang menjadi penopang penting untuk ketahanan pangan.
Sebagaimana disinggung Siregar (2015), ketahanan pangan merupakan salah satu dari 3 unsur penentu ketahanan ekonomi selain ketahanan finansial dan ketahanan energi. Dalam konteks inilah, pangan menjadi penting, termasuk sektor pertanian yang juga harus menjadi mainstream dalam pembangunan desa dan pembangunan nasional. Ketahanan pangan bisa didefinisikan secara beragam. Ketahanan pangan dapat diartikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan yang cukup dari segi jumlah maupun mutunya, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan dikatakan bukan semata masalah produksi melainkan juga akses terhadap bahan pangan yakni masalah ketersediaan dan harga yang terjangkau selain soal ada atau tidaknya keswasembadaan pangan di tingkat komunitas.
Berkaitan dengan ketahanan pangan, sebagaimana disampaikan Krisnamurti (2008:13), Indonesia mengalami krisis sumberdaya lahan yang ditandai dengan beberapa hal diantaranya: lahan kritis yang semakin luas, turunnya kualitas jalan (pertanian), konversi lahan pertanian (yang lebih cepat daripada pertambahan lahan pertanian baru), lahan per petani yang (semakin) sempit, akumulasi penguasaan lahan pada sedikit pihak, keterbatasan lahan vs kebutuhan pangan, dan reforma agraria yang belum berjalan. Dalam hal inilah dimunculkan 4 strategi yang dimungkinkan untuk dilakukan yaitu: 1) Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lahan eksisting (lahan pertanian yang ada saat ini) agar lebih produktif dan lestari baik secara kuantitas (luasan) maupun kualitas (kesuburan/produktifitas); 2) Perluasan areal pertanian baru atau ekstensifikasi dengan beberapa upaya seperti ekstensifikasi dengan memanfaatkan lahan potensial;  3) Percepatan penyiapan pelaksanaan kebijakan dan regulasi/kelembagaan seperti 'REFORMA AGRARIA' untuk percepatan perluasan areal pertanian, pemberdayaan masyarakat pedesaan, pengesahan dan implementasi RUU PLPPB untuk melindungi lahan pertanian pangan; 4) Kebijakan energi nasional melalui pengembangan bioenergi dalam negeri.



KRISIS KELESTARIAN HUTAN

Menurut KBBI krisis/kri·sis/ a 1) keadaan yang berbahaya (dalam menderita sakit); parah sekali; 2) keadaan yang genting; kemelut; 3) Jadi Krisis Kelestarian Hutan dapat diartikan sebagai keadaan lestari Hutan sedang ada dalam keadaan yang berbahaya dan genting.
Kerusakan sumber daya lahan dan hutan sudah sejak lama terjadi, karena negara hanya memikirkan keuntungan ekonomis semata, menjadikannya sumber devisa negara. Bukan hanya karena keuntungan ekonomis, namun beberapa oknum – oknum tidak bertanggung jawab juga banyak yang merusak, mengotori dan membotaki hutan-hutan yang sebenarnya sangat penting bagi semua makhluk hidup. Memang benar, hal-hal yang mereka lakukan berguna dan menguntungkan bagi kehidupan banyak orang. Namun, keuntungan tersebut harus ditebus mahal, dengan terjadinya kerusakan sumber daya lahan dan hutan.


Beberapa bentuk terjadinya kerusakan hutan dipicu oleh berbagai kegiatan seperti:
1.      Ilegal logging, yaitu penebangan yang terjadi di suatu kawasan hutan yang dilakukan secara liar sehingga menurunkan atau mengubah fungsi awal hutan. Meskipun telah ada larangan keras dari Pemerintah untuk melakukannya, akan tetapi sebagian besar kalangan masyarakat masih melakukan kegiatan tersebut.
2.      Kebakaran hutan, kebanyakan dari peristiwa kebakaran hutan terjadi karena faktor kesengajaan. Beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab sengaja membakar hutan untuk dijadikan lahan perkebunan, pemukiman, peternakan, dan yang lainnya.
3.      Perambaan hutan. Para petani yang bercocok tanam tahunan dapat menjadi sebuah ancaman bagi kelestarian hutan. Mereka bisa dapat memanfaatkan hutan sebagai lahan baru untuk bercocok tanam. Selain itu, pertumbuhan penduduk yang semakin pesat juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya perambaan hutan. Hal ini disebabkan kebutuhan lahan untuk kelangsungan hidup meraka juga semakin meningkat. Dan hutan menjadi salah satu object yang bisa mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
4.      Serangan hama dan penyakit
Mencermati kenyataan tersebut, penyelamatan Hutan menjadi suatu yang harus memacu kita untuk mencegah punahnya tumbuhan sebagai aset yang tidak ternilai harganya untuk modal pembangunan dan masa depan bangsa. Dengan itu, maka diperlukannya cara melestarikan hutan tersebut. berikut beberapa cara melestarikan hutan:
1.  Melakukan reboisasi
2. Menerapkan sistem tebang pilih
3. Menerapkan sistem tebang-tanam
4. Melakukan penebangan secara konservatif.
5. Memberikan sangsi bagi penebang yang melakukan penebangan sembarangan
6. Tidak membuang sampah sembarangan di hutan
7. Melindungi dan menjaga habitat yang ada di hutan
9. Mengurangi penggunaan kertas berlebih
10. Mengidentifikasi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan
11. Melakukan seminar pelestarian hutan


KRISIS MAKHLUK HIDUP DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI





Kerusakan lingkungan adalah deteriorasi lingkungan dengan hilangnya sumber daya air, udara, dan tanah, kerusakan ekosistem dan punahnya flora dan fauna. Kerusakan alam dapat menyebabkan penyakit bagi manusia, menciptakan lingkungan yang tidak sehat untuk ditinggali, habisnya sumber daya alam, dll. Sedangkan kepunahan keanekaragaman hayati dapat menyebabkan generasi mendatang tidak dapat menikmati keaneka ragaman hayati, ketidakseimbangan ekosistem, menjadi potensi timbulnya penyakit atau wabah, dll.
Hal ini disebabkan oleh 2 faktor, yaitu kerusakan akibat peristiwa alam dan akibat ulah manusia. Kerusakan akibat peristiwa alam contohnya letusan gunung berapi, angin topan, banjir, gempa bumi, longsr, dll. Sedangkan kerusakan akibat ulah manusia diantaranya polusi udara akibat kendaraan bermotor dan pabrik, polusi air akibat limbah rumah tangga dan pabrik, pembakaran hutan, perburuan hewan secara liar, eksploitasi alam besar-besaran, dll.
Kerusakan lingkungan memberikan dampak negatif terhadap kehidupan manusia. Oleh sebab itu, diperlukan cara untuk mengatasi kerusakan lingkungan. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemunduran lingkungan, yaitu reboisasi atau penghijauan di lahan yang telah rusak, mencegah penebangan liar dan menerapkan sistem tebang pilih, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dan menggantinya dengan bahan bakar alternatif, membuat sengkedan di daerah lereng pegunungan yang digunakan sebagau lahan pertanian, menggunakan bahan yang mudah diuraikan mikroorganisme, menerapkan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replant). Sedangkan untuk melindungi keanekaragaman hayati bisa diterapkan beberapa cara untuk mencegah kepunahan keragaman hayati, yaitu dengan tidak melakukan perburuan liar, tidak memlihara hewan yang dilindungi, tidak mengonsumsi hewan-hewan yang dilindungi, menjaga kelestarian alam tempat hewan-hewan tinggal.




KRISIS ENERGI DAN BAHAN-BAHAN MATERIAL

Krisis energi adalah kekurangan dalam persediaan sumber daya energi ke ekonomi. Krisis ini biasanya merujuk ke kekurangan minyak bumi, listik, atau sumber daya alam lainnya. Krisis ini memiliki akibat pada ekonomi, dengan banyak resesi disebabkan oleh krisis energi dalam beberapa bentuk. Krisis energi juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan ketika pasokan energi yang kita miliki tidak cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan kita (khususnya listrik).
Krisis energi yang terjadi saat ini disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama. Bahan bakar fosil sendiri membutuhkan berjuta-juta tahun untuk dapat diperoleh kembali. Selain itu biaya yang harus dikeluarkan untuk memproses bahan bakar yang siap pakai tersebut tidaklah sedikit, belum lagi dampak pengrusakan lingkungan yang diakibatkannya. Di sisi lain, kita juga kurang mengeksplorasi sumber-sumber energi lain yang masih bisa dimanfaatkan dan bahkan lebih menguntungkan, baik dari segi waktu, biaya, dan juga dampaknya terhadap lingkungan. Beberapa contoh diantaranya seperti sumber energi dari angin, pasang-surut air laut, nuklir, dan bahkan dari sampah sekalipun. Di satu sisi, kebutuhan energi semakin meningkat per tahun. Untuk menghadapi hal ini, dibutuhkan energi terbarukan yang dapat diperbarui. Salah satu dari energi tersebut adalah energi surya. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan terjadinya krisis energi adalah sikap kita yang terlalu konsumtif dan boros dalam memanfaatkan suatu energi.
Cara yang bijak untuk mengatasi krisis energi dan sumber alam adalah dengan melaksanakan keluarga berencana sehingga mengarah pada pertumbuhan nol (zero growth), mengembangkan energi alternatif dan mengubah pola hidup yang boros pemakaian energi dan sumber alam menjadi pola hidup yang menghemat pemakaian energi dan sumber alam dengan melakukan 5R(reduce, reuse, recycle, restore and replenish) serta memperhatikan dan mempertahankan lingkungan hidup sehingga tidak merusak siklus ekologi.





KRISIS ATMOSFER GLOBAL

Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Adapun fungsi atmosfer adalah untuk mengurangi radiasi cahaya matahari yang sampai ke bumi pada siang hari, sedangkan pada malam harinya sebagai penghilang rasa panas yang berlebihan, sebagai penahan bagian sistem tata surya seperti meteor yang akan jatuh ke bumi, sebagai pendistribusi air ke berbagai penjuru permukaan bumi atmosfer di sini memiliki peranan sebagai penampung uap air. Tidak diragukan lagi seberapa pentingnya atmosfer bagi kehidupan di bumi. Namun, pada zaman ini atmosfer mengalami krisis atau kerusakan. Beberapa hal yang dapat mendukung rusaknya lapisan atmosfer adalah gas CFC (Clorofluorocarbon), banyaknya volume penggunaan kendaran bermotor, gundulnya hutan sebagai paru-paru dunia, asap hasil pabrik yang tidak disaring terlebih dahulu sebelum dibuang, bahan-bahan rumah tangga yang berbahaya, banyak menggunakan  parfum, AC, atau bahan-bahan aerosol.
Kerusakan pada atmosfer khususnya ozon dapat menjadi malapetaka bagi kelangsungan hidup warga bumi. Dampak-dampak yang dapat terjadi apabila atmosfer semakin menipis yaiut, penyakit mematikan akibat sinar matahari yang tidak tersaring seperti kanker kulit, akan terganggunya ekosistem, kenaikan sush yang ekestrim akan menyebabkan mencairnya es di kutub utara yang berpotensi sebagai kenaikan air laut yang drastis
Adapun cara untuk mencegah penipisan dan lubang pada atmosfir bisa diupayakan dengan tidak menggunakan kendaraan bermotor secara berlebihan, menggunakan kendaarn umum, meminimalkan penggunaan produk aerosol dna AC, banyak menanam tanaman atau reboisasi pada hutan gundul.





KRISIS HIDROSFER DAN LITOSFER

§  Pengertian Hidrosfer:
Hidrosfer adalah lapisan air yang ada di permukaan bumi. Kata hidrosfer berasal dari kata hidros yang berarti air dan sphere yang berarti lapisan. Hidrosfer di permukaan bumi meliputi danau, sungai, laut, lautan, salju atau gletser, air tanah dan uap air yang terdapat di lapisan udara. Hampir tiga per empat bumi ditutupi oleh air dengan jumlah yang tetap dan hanya mengalami perubahan bentuk. Hal ini terjadi karena air mengalami siklus yang disebut daur idrologi atau water cycle.
Siklus hidrologi adalah suatu proses peredaran atau daur ulangair secara yang berurutan secara terus-menerus. Pemanasan sinar matahari menjadi pengaruh pada siklus hidrologi. Air di seluruh permukaan bumi akan menguap bila terkena sinar matahari. Pada ketinggian tertentu ketika temperatur semakin turun uap air akan mengalami kondensasi dan berubah menjadi titik-titik air dan jatuh sebagai hujan.Siklus hidrologi dibedakan menjadi tiga, yaitu siklus pendek, siklus sedang dan siklus panjang.
1.Siklus sedang
Pada siklus sedang, uap air yang berasal dari lautan ditiup oleh angin menuju ke daratan. Di daratan uap air membentuk awan yang akhirnya jatuh sebagai hujan di atas daratan. Air hujan tersebut akan mengalir melalui sungai-sungai, selokan dan sebagainya hingga kembali lagi ke laut.
2. Siklus panjang
Pada siklus panjang, uap air yang berasal dari lautan ditiup oleh angin ke atas daratan. Adanya pendinginan yang mencapai titik beku pada ketinggian tertentu, membuat terbentuknya awan yang mengandung kristales. Awan tersebut menurunkan hujan es atau salju di pegunungan. Di permukaan bumi es mengalir dalam bentuk gletser, masuk ke sungai dan selanjutnya kembali ke lautan.
Hidrosfer dikelompokkan menjadi dua, yaitu perairan darat dan perairan laut.
1. Perairan di daratan
a. Air tanah
b. Air tanah dangkal
c. Air tanah dalam
d. Air permukaan

2. Perairan Laut
Hidrosfer memiliki banyak sekali manfaat baik untuk manusia, hewan maupun tumbuhan. Air adalah sumber kehidupan, tanpa air mungkin kehidupan ini tidak mungkin ada. Dalam hidrosfer terbagi menjadi beberapa macam, yaitu perairan air laut, perairan air tanah (danau, rawa, sungai, waduk, bendungan, sumur, dll). Manusia sangat membutuhkan air untuk minum, memasak, mencuci dan masih banyak lagi, begitu pula dengan tumbuhan, tumbuhan membutuhkan air untuk melakukan proses fotosintesis, sedangkan hewan membutuhkan air untuk habitat seperti ikan, kerang, dll, untuk minum dll. Kita patut bersyukur kepada Allah Karena diberikan sesuatu yang sangat berharga yaitu air, kadang air dalam jumlah yang terlalu banyak dapat menyebabkan bencana alam seperti banjir. Banjir sebagian disebabkan oleh perbuatan manusia, manusia membuang sampah, limbah, ketempat yang tidak pada tempatnya (sungai, selokan) itu salah satu sebab mengapa terjadi banjir. Untuk itu kita harus sadar dan sebisa mungkin mencegah terjadinya bencana seperti banjir.

§  Pengertian Litosfer:
A. PENGERTIAN LITOSFER (KERAK BUMI)
Secara bahasa litosfer berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata “lithos” yang artinya berbatu dan “sphere” yang artinya lapisan. Jadi dapat dikatakan bahwa lithosfer merupakan lapisan paling luar atau Kulit Bumi. Secara umum lapisan kulit bumi ini disusun mengkuti bentuk muka bumi dan terdiri dari batuan serta mineral. Dalam istilah umum litosfer sering kita sebut dengan permukaan bumi. Terdapat dua bagian utama litosfer, yaitu litosfer atas atau yang sering kita sebut dengan permukaan daratan (penyusun 1/3 atau sekitar 35% bagian litosfer) dan litosfer bawah atau yang lebih sering kita sebut dengan dasar lautan (penyusun 2/3 atau sekitar 65% bagian litosfer)
B. FUNGSI / MANFAAT LITOSFER (KERAK BUMI)
·         Tempat makhluk hidup menjalani kehidupannya
·         Batuan penyusun litosfer dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang (paling banyak bidang industri)
·         Penyusunnya juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan pemenuhan kebutuhan manusia lain.
·         Mineral penyusun litosfer dapat dimanfaatkan untuk banyak hal seperti bahan bangunan, peralatan rumah tangga, industri elektronika, perhiasan, dll.



DAFTAR PUSTAKA

·         Krisis Lahan Pertanian
Apriantono, Anton. "Kebijakan dan Strategi Pengembangan Lahan Pertanian untuk Keberlanjutan Pangan dan Pengambangan Bioenergi". Prosiding Semiloka Nasional 22-23 Desember 2008. Dalam Tarigan, Suria Dharma, dkk. 2009. Strategi Penanganan Krisis Sumberdaya Lahan untuk Mendukung Kedaulatan Pangan dan Energi. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, p.9-12.
Siregar, Hermanto. 2015. "Penguatan Ekonomi Daerah, Pengarusutamaan Pertanian: Solusi Menghadapi Dinamika Global". Materi Kuliah Umum Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, 31 Agustus 2015.
Syahyuti. 2006. 30 Konsep Penting Dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian: Penjelasan tentang Konsep, Istilah, Teori, dan Indikator serta Variabel. Jakarta: Bina Rena Pariwara.

·         Krisis Kelestarian Hutan
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hutan/dampak-akibat-kerusakan-hutan

·         Krisis Mahluk Hidup dan Keanekaragaman Hayati

·         Krisis Atmosfer Global

·         Krisis Hidrosfer dan Litosfer
http://nazhifatunnl.blogspot.com/2012/05/materi.html




0 komentar:

Posting Komentar