Keanekaragaman
Makhluk Hidup dan Persebarannya
DOSEN PENGAMPU : Samik, S.Si., M.Si.

Nama
Kelompok :
Adeline
Vearnisinta (02012170008)
Esperanza
Erents K. (02012170020)
Stefany
Salipadang (02012170022)
Sylvi
Lorensia (02012170023)
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTASI
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
SURABAYA
2018
1. Kajian Keanekaragaman Makhluk Hidup
Istilah keanekaragaman hayati atau
“biodiversitas” menunjukkan sejumlah variasi yang ada pada makhluk hidup baik
variasi gen, jenis dan ekosistem yang yang di suatu lingkungan tertentu.
Keanekaragaman hayati yang ada di bumi kita ini merupakan hasil proses evolusi
yang sangat lama, sehingga melahirkan bermacam-macam makhluk hidup.
Keanekaragaman hayati dapat dikelompokkan atas keanekaraman gen, jenis dan
ekosistem.
a. Keanekaragaman
Tingkat Gen
Makhluk hidup tersusun atas unit
satuan terkecil yang kita kenal sebagi sel. Dalam inti sel terdapat materi
pembawa sifat yang disebut gen. Setiap individu memiliki jumlah dan variasi
susunan gen yang berbeda-beda. Pada prinsipnya bahan penyusun Gen setiap
makhluk hidup adalah sama, namun jumlah dan susunanya yang berbeda-beda
sehingga menampilkan sifat-sifat yang berbeda-beda pula.
b. Keanekaragaman
jenis
Variasi warna pada ikan dan warna
bunga menunjukkan adanya variasi dalam tingkatan jenis makhluk hidup. Variasi
ini disebabkan karena adanya rekombinasi (pencampuran) gengen dalam jenis
tersebut sehingga melahirkan variasi yang lebih beragam.
c. Keanekaragaman
tingkat ekosistem
Suatu ekosistem terdiri dari
komunitas hewan, tumbuhan dan mikroorganisme beserta lingkungan abiotik dimana
semua makhluk hidup tersebut berada. Kedua komponen ini saling berinteraksi
satu dengan lainnya dengan berbagai cara yang berperan dalam siklus materi dan
energi. Keanekaragaman ekosistem dapat dilihat dari variasi ekosistem.
Sistem klasifikasi
Suatu kajian
tentang pengelompokkan makhluk hidup ke dalam tingkatan atau takson tertentu
disebut taksonomi. Seorang tokoh yang sangat berepran dalam klasifikasi makhluk
hidup dan dikenal sebagai Bapak taksonomi adalah Carolus Linnaeus (1707- 1778).
Seiring dengan perkembangan ilmu klasifikasi makhluk hidup, system klasifikasi
dapat dibedakan berdasarkan cara dan tujuannya, yaitu:
a. Sistem
klasifikasi buatan (artificial)
Didasarkan pada pertimbangan secara sekehendak hati
para ahli taksonomi dengan melihat habitat (tempat hidup) dan nilai guna dari
makhluk hidup tersebut.
b. Sistem
klasifikasi alamiah (natural)
Sistem ini didasarkan pada
kesamaan morfologi secara fenotip yang ada hubungannya dengan makhluk hidup
yang sesungguhnya.
c. Sistem
klasifikasi evolusi (filogenetik)
Sistem klasifikasi ini lebih
menekankan aspek hubungan kekerabatan dan sejarah perkembangan evolusi makhluk
hidup yang ada sekarang.

Sistem Binomial nomenclatur
Pada pertengahan abad ke-18
(1707-1778) Carolus Linnaeus mengajukkan system penamaan makhluk hidup dalam
tulisannya “Systema nature” dengan istilah “:Binomial nomenclatur” (bi= dua,
nomen=nama)yang artinya tata nama seluruh organisme ditandai dengan nama ilmiah
yang dterdiri dari dua kata latin atau yang dilatinkan.
Kata pertama menunujukkan genus, yang
penulisannya dimulai dengan hurup besar, sedangkan kata kedua merupakan
“epitethon spesificum“ artinya penunjukkan jenis (spesies) yang penulisannya
dimulai dengan hurup kecil. Misalnya untuk nama ilmiah singkong Felis
domesticus . Felis menunjukkan genus, sedangkan domesticus emerupakan ciri
khsuusnya, yang berarti sejenis hewan yang dipelihara di dalam rumah
(domestik).
Tingkatan/Takson makhluk hidup
Kelompok
taksonomi pada takson yang sama memiliki katagori yang sama. Urutan takson dari
yang tertinggi sampai terendah seperti berikut:
Setiap takson memiliki persamaan
dan perbedaan ciri. Makin tinggi takson makin sedikit persamaan ciri yang
dimilkinya dan dengan demikian makin banyak pula perbedaanya. Sebaliknya makin
rendah takson, maka makin banyak persamaannya dan makin sedikit perbedaanya.

• Konsep
Spesies
Konsep spesies menurut para ahli taksonomi merupakan
gabungan populasi alami yang secara morfologi dan ekologi serupa dan yang dapt
melakukan perkawinan (interbreeding) serta menghasilkan keturunan yang fertile.
Contohnya Kuda dan Keledai dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan bagal,
tetapi bagal ini mandul maka kuda dan keledai bukan termasuk satu spesies.
• Klasifikasi
Makhluk Hidup berdasarkan Kingdom
Perkembangan klasifikasi makhluk hidup sampai abad
ke-18 menempatkan semua makhluk hidup dalam salah satu dari dua kingdom yaitu
tumbuhan dan hewan. Pada masa berikutnya para ahli taksonomi mengamati ada
perbedaan kelompok makhluk hidud selain tumbuhan dan hewan yaitu jamur (fungi),
sehingga makhluk hiudp dikelompokkan menjadi 3 kingdom yaitu hewan, tumbuhan
dan Jamur.
Copeland
(1938-1847) mengajukan 4 kingdom klasifikasi makhluk hidup, yaitu Monera untuk
semua makhluk hiudp prokariota, protista untuk semua makhluk hidup sedikit atau
tidak memiliki jaringan yang terdiferensiasi, metafita dan metazoamasing-masing
untuk dunia tumbuhan dan hewan tingkat tinggi.
Pada tahun 1969 Robert H.Whittaker merumuskan 5 kingdom klasifikasi
makhluk hiudp yang seakarang banyak digunakan yang meliputi: Monera, Protista,
Fungi, Animalia dan Plantae.

2. Kajian Penyebaran Makhluk Hidup di Suatu Wilayah
Keanekaragaman
hayati di muka bumi selalu berkaitan pada kondisi wilayah. Beberapa Rora dan
fauna hanya dapat bertahan hidup pada wilayah yang beriklim tropis, dimana curah
hujan dan penyinaran matahari terjadi secara optimal. Sebaliknya beberapa Rora
dan Fauna dapat hidup di daerah yang bersuhu ekstrim, seperti pada daerah kutub
dan gurun. Pengaruh kondisi suatu wilayah terhadap persebaran flora dan fauna
dapat berupa faktor-faktor abiotik dan faktor biotik. Yang termasuk faktor
abiotik adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), tanah, dan topografi,
serta faktor geologi. Sedangkan yang termasuk biotik adalah Aktivitas manusia,
hewan dan Tumbuhan. Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran keanekaragaman
hayati di bumi:
a. Faktor
iklim
Iklim adalah faktor penting yang
memainkan peran utama dalam persebaran flora dan fauna. Faktor iklim yang
berbeda-beda pada suatu wilayah menyebabkan jenis tumbuhan maupun hewannya juga
berbeda. Wilayah-wilayah dengan pola iklim ekstrim seperti kutub yang memiliki
suhu sangat rendah dan gurun yang memiliki suhu sangat tinggi mengakibatkan
persebaran flora dan fauna tidak optimal karena sangat menyulitkan bagi
kehidupan tumbuhan maupun hewan. Oleh karena itu, persebaran flora dan fauna
pada wilayah ini sangat sedikit sehingga mempengaruhi jumlah maupun jenis dari
flora dan fauna. Sebaliknya pada wilayah-wilayah yang beriklim tropis
persebaran flora dan fauna bervariasi sehingga terjadi peningkatan baik jumlah
maupun jenisnya.
Daerah tropis merupakan daerah
yang sangat kaya akan keanekaragaman flora dan fauna, karena pada daerah ini
mendapatkan sinar matahari dan hujan yang cukup, keadaan ini berbeda dengan
daerah kutub dan daerah gurun. Variasi suhu pada wilayah akan mempengaruhi
bagaimana flora dan fauna dapat merespon terhadap pengaruh lingkuunagan
sekitarnya sehingga dapat mempertahankan kehidupannya.
b. Suhu
Garis lintang setiap wilayah akan
mempengaruhi seberapa banyak wilayah tersebut menerima penyinaran matahari,
wilayah yang berada pada posisi lintang beriklim tropis akan cenderung lebih
banyak menerima penyinaran matahari setiap tahunnya di bandingkan dengan wilayah
yang memiliki posisi lintang lainnya. Akibat dari perbedaan penyinaran matahari
tersebut mengakibatkan variasi suhu udara di setiap wilayah di muka bumi.
Selain itu perbedaan ketinggian suatu tempat maupun wilayah di atas permukaan
laut juga akan berpengaruh pada perbedaan suhu yang terjadi. Kondisi suhu udara
tentunya sangat berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna. Rora dan fauna
memiliki tingkat tanggap terhadap pengaruh lingkungan sekitar yang
berbeda-beda. Setiap spesies memiliki syarat suhu lingkungan yang ideal yang
berbeda satu sama lain utuk dapat bertahan hidup, sebagai contoh. Flora dan
fauna yang berada pada kawasan tropis tidak dapat bertahan hidup apabila
menempati wilayah yang beriklim gurun maupun dingin. Flora dan fauna iklim tropis
tidak memiliki tingkat ketahanan yang tinggi terhadap perbedaan suhu yang
ekstrim antara siang dan malam.
c. Kelembaban
Udara
Dalam kehidupan di bumi kelembaban
udara merupakan salah satu unsur penting bagi keanekaragaman hayati. Kelembaban
udara jugamenentukan bagaimana mahluk hidup tersebut dapat beradaptasi terhadap
lingkungannya. Tingkat kelembaban udara berpengaruh langsung terhadap pola
persebaran tumbuhan di muka bumi. Beberapa jenis tumbuhan sangat cocok hidup di
wilayah kering, sebaliknya terdapat jenis tumbuhan yang hanya bertahan hidup di
atas lahan dengan kadar air selalu tinggi, sebagai contoh tanaman bakau yang
ditanam pada daerah yang berkelembaban tinggi, bakau tersebut akan berkembang
dan berproduktifitas dengan maksimal. Sebaliknya jika bakau tersebut di tanam
pada daerah yang mempunyai kelembaban yang rendah maka bakau tersebut tidak
akan berproduktifitas dan berkembang secara maksimal.
d. Angin
Angin secara tidak langsung
memiliki pengaruh penting terhadap persebaran keanekaragaman hayati di bumi.
Angin berfungsi sebagai alat transportasi yang memindahkan benih beberapa jenis
tumbuhan dan membantu proses penyerbukan baik penyerbukan secara alami maupun
silang. Selain itu, angin berfungsi untuk mendistribusikan uap air atau awan
yang mengandung hujan dari suatu tempat ke tempat lain.
e. Curah
Hujan
Jumlah dan distribusi curah hujan
sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati. Bagi makhluk hidup, air
merupakan kebutuhan utama karena air merupakan sumber kehidupan. Begitu
pentingnya air bagi kehidupan keanekaragaman hayati mengakibatkan terjadinya
persebaran mahluk hidup antar wilayah. Persebaran berbagai makhluk hidup ini
biasanya tergantung intensitas curah hujan. Akibat perbedaan curah hujan pada
tiap-tiap wilayah di permukaan bumi menyebabkan perbedaan jenis hewan dan
variasi karakteristik vegetasi yang mendiami wilayah tersebut
f.
Faktor Geologi
Keanekaragaman flora dan fauna
yang ada di permukaan bumi ini diperkirakan sesuai dengan perkembangan bumi.
Beberapa teori terdahulu memperkirakan bumi terdiri atas satu benua besar dan
satu samudra, namun karena adanya gaya endogen yang sangat kuat maka benua itu
menjadi terpisah. Pecahan benua itu yang sering disebut dengan puzzle
raksasa.
Menurut Teori
"Apungan" dan "Pergeseran Benua" yang disampaikan oleh
Alfred Lothar Wegener (1880-1930). Kurang lebih 265 juta tahun yang lalu, bumi
hanya terdiri atas satu benua besar yang disebut "Pangaea"dan satu
samudra besar "panthalassa", karena adanya tenaga endogen benua besar
itu terpecah membentuk Benua Eurasia di bagian utara (Amerika Utara, Eropa,
Asia bagian utara, dan Asia bagian tengah) dan Gondwana di bagian selatan
(Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan Antartika). Adanya pergeseran
benua yang terus berlangsung akibat tenaga endogen, kurang lebih 20 - 50 juta
tahun yang lalu Afrika dan Asia selatan bergabung dengan Eurasia, sedang
Australia memisahkan diri dengan Antartika.
Proses pemisahan benua-benua tersebut menyebabkan
terpisah pula flora dan fauna saat itu (Sumardi, 2009:6 ).
Fauna di Afrika mempunyai kesamaan
dengan fauna di India. Padahal diketahui kedua tempat tersebut dipisahkan oleh
samudra. Beberapa ahli berpendapat bahwa hal tersebut bisa terjadi sesuai
dengan "Teory Apung Benua". Pada saat Pangaea terpecah, Afrika dan
India dengan membawa serta flora dan
fauna yang ada, diantaranya pada saat itu terdapat spesies luluhur kerbau dan
badak masa kini. Dua daratan tersebut tetap terpisah dalam waktu yang lama
namun kemudian keduanya bertabrakan dengan benua Eurasia sehingga mulai saat
itu yang terjadi adalah terbentuk jembatan darat antara keduanya yaitu daratan
Arab dan Asia sehingga memungkinkan terjadinya migrasi fauna diantaranya gajah,
kucing besar, dan mamalia kecil. Seiring berjalannya waktu dan berbagai proses
endogen dan eksogen, terjadi penghalang alami yaitu gurun pasir serta laut
merah dan laut Arab maka selanjutnya spesiesspesies yang ada di masing-masing
tempat berkembang dan beradaptasi sesuai dengan lingkungannya (Sumardi,
2009:7).
g. Faktor
Topografi
Perbedaan ketinggian tempat akan
berpengaruh pada persebaran flora dan fauna. Faktor topografi meliputi
ketinggian tempat dan kemiringan lahan. Ketinggian tempat erat kaitannya dengan
perbedaan suhu. Diantara daerah yang mempunyai ketinggian yang berbeda, akan
ditumbuhi oleh vegetasi yang jenisnya berbeda pula karena vegetasi tumbuhan
maupun hewan mempunyai tingkat adaptasi yang berlainan (Qodratullah, 2013).
Ahli klimatologi dari Jerman yang bernama Junghunn membagi habitat beberapa
tanaman di Indonesia berdasarkan suhu, sehingga didapatkan empat penggolongan
iklim sebagai berikut.
a. Wilayah
berudara panas (O - 600 m dpal). Suhu wilayah ini antara 23,3 °C - 22 °C,
tanaman yang cocok ditanam di wilayah ini adalah tebu, kelapa, karet, padi,
lada, dan buah-buahan.
b. Wilayah
berudara sedang (600 - 1.500 m dpal). Suhu wilayah ini antara 22 °C - 17,1 °C,
tanaman yang cocok ditanam pada wilayah ini adalah kapas. kopi, coklat, kina,
teh, dan macam-macam sayuran, seperti kentang, tomat, dan kol.
c. Wilayah
berudara sejuk (1.500 - 2.500 m dpal). Suhu wilayah ini antara 17,1 °C - 11,1
°C, tanaman yang cocok ditanam pada wilayah ini antara lain sayuran, kopi, teh,
dan aneka jenis hutan tanaman industri.
d. Wilayah
berudara dingin (lebih 2.500 m dpal). Wilayah ini dijumpai tanaman yang
berjenis pendek, contoh: edelweis ( Sumardi, 2009:9 ).
h. Faktor
Tanah
Selain iklim, faktor lingkungan
yang mempengaruhi persebaran keanekaragaman hayati di bumi terutama tumbuhan
adalah kondisi tanah. Tingkat kesuburan tanah menjadikan tanah sebagai faktor
utama yang berpengaruh terhadap persebaran tumbuhan. Tumbuhan sangat tergantung
pada tanah yang dapat menyimpan dan memberikan nutrisi bagi tanaman untuk tetap
bertahan hidup. Tanah humus dan tanah vulkanis sangat baik untuk pertumbuhan
tanaman karena memiliki banyak unsur hara. Ini berarti semakin subur tanah maka
kehidupan tumbuhan semakin banyak jumlah dan keanekaragamannya. Tanah banyak mengandung
unsur-unsur kimia yang diperlukan bagi pertumbuhan flora di dunia. Kadar
kimiawi berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah. Apabila tanah mengalami
kekurangan nutrisi maka akan mengakibatkan terjadinya kompetisi organisme. Bila
kesuburan tanah terus memburuk maka spesies yang kurang agresif dalam
mempertahankan hidupnya akan mengalami jumlah yang terus berkurang. Komposisi
tanah umumnya terdiri dari bahan mineral anorganik (70%-90%), bahan organik
(1%-15%), udara dan air (0-9%).
i.
Faktor Biotik
1) Manusia
Manusia adalah komponen biotik
paling berperan terhadap keberadaan keanekaragaman hayati di bumi. Pada
dasarnya manusia berperan sebagai penjaga kelestarian keanekaragaman hayati.
Perubahan keanekaragaman hayati sebagian besar disebabkan oleh aktivitas
manusia, bencana alam, maupun seleksi alam. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
manusia mengolah dan memanfaatkan lingkungan secara optimal. Terkadang
aktivitas manusia dalam mengelola dan memanfaatkan lingkungan dapat merusak
keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan tersebut.
Sebagai contoh dengan adanya
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dapat dengan mudah dan relatif
cepat melakukan reboisasi terhadap lingkungan atau mengubah fungsi hutan
sebagai wilayah pemukiman. Perubahan fungsi hutan sebagai wilayah pemukiman
misalnya akan berdampak pada ketidak seimbangan ekosistem. Hilangnya berbagai
jenis flora dan fauna karena perubahan fungsi lahan akan berpengaruh pada
jumlah keanekaragaman hayati.
Aktivitas manusia juga dapat berfungsi
sebagai faktor persebaran keanekaragaman hayati di bumi. Manusia dapat
memindahkan tumbuhan maupun hewan dari suatu wilayah ke wilayah lainnya.
2) Hewan
Hewan memiliki peran dalam
persebaran keanekaragaman hayati di muka bumi. Suatu wilayah yang di dominan
oleh hewan karnivora akan berakibat pada berkurangnya jumlah hewan herbivora.
Hal ini akan berpengaruh juga terhadap hewan karnivora, sehingga untuk dapat
bertahan hidup hewan karnivora harus berpindah kewilayah lain. Selain itu,
seleksi alam mengharuskan hewan yang memiliki tingkat tanggap rendah terhadap
lingkungan harus berpindah dari suatu wilayah ke wilayah lain untuk tetap
mempertahankan hidupnya. Selain itu aktivitas dari hewan juga berfungsi sebagai
penyebar tumbuhan. Sebagai contoh, tupai dapat membantu penyebaran biji
tumbuhan dari suatu wilayah ke wilayah lain.
3) Tumbuhan
Tumbuhan dapat
berperan sebagai faktor persebaran bagi tumbuhan maupun bagi hewan. Bagi hewan
herbivora berkurangnya jumlah tumbuhan di suatu wilayah akan mengakibatkan
hewan-hewan herbivora akan berpindah ke wilayah lain untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya untuk bertahan hidup. Selain itu tumbuhan yang berukuran besar merupakan
pelindung bagi tumbuh-tumbuhan kecil yang berada dibawahnya. Bagi tumbuhan
besar tumbuhan parasit memanfaatkan tumbuhan besar untuk dapat bertahan hidup
dengan menempel di batang pohonnya. Tumbuhan yang hidup menempel di batang
pohonnya, seperti anggrek, dan benalu. Tumbuh-tumbuhan juga mempunyai peran
dalam menyuburkan tanah melalui daun-daun yang telah membusuk. Tanah yang subur
memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuhan dan juga memengaruhi
kehidupan hewan.
3. Perilaku Makhluk Hidup
Perilaku adalah aktivitas suatu
organisme akibat adanya suatu stimulus (Umar. 2012).Ekologi tingkah laku adalah
sebuah studi yang mempelajari tingkah laku dalam konteksevolusi. Ekologi
tingkah laku dapat digunakan untuk mendeskripsikan perilaku hewan dengan detail
dan bagaimana mereka berkembang dan berkontribusi terhadapa suksesnyadaya hidup
dan reproduksinya (Reece,2012).
a) Perilaku
Innate adalah perilaku yang dikontrol kuat oleh $aktor genetik dan sama pada
semuaindividu pada spesies yang sama (Reece,2012).
b) FAP
(Fixed Adition Pattern) adalah perilaku yang terjadi akibat stimulus khusus.
Misalnya adalah tingkah laku angsa abu-abu dari Eropa yang akan meletakkan
telurnya yang jauh untuk berkumpul lagi dengan telur lainnya menggunakan
kepalanya untuk menggiring telur tersebut(Reece,2012).
Pola Perilaku Makhluk Hidup
Bumi ini di huni oleh berjuta
jenis hewan yang berbeda dan setiap jenias memiliki perbedaan sendiri. Demikian
juga dengan perilaku hewan memiliki perilaku umum yang dimiliki oleh banyak
jenis, dan sedikit pola perilaku yang dimiliki oleh semua jenis. Untuk sekian
lama, seleksi alam juga memungkinkan jenis hewan tertentu memiliki kemampuan
untuk mencapai tujuan tujuan perilaku, termasuk perilaku komunikasi, perilaku
penguasaan wilayah, perilaku penyebaran dan perilaku social.
Adapun pola, pola perilaku hewan
yaitu (Susanto. 2000):
a. Perilaku
reproduksi
Meskipun beberapa jenis hewan
mampu untuk berbiak secara aseksual (seperti beberap jenis serangga dan sedikit
jenis kadal), kebanyakan hewan harus menemukan pasangan agar mampu
bereproduksi. Pada banyak kasus, satu individu hewan, pada umumnya jantan,
mencoba untuk berprilaku atraktif untuk menarik lawan jenisnya. Peristiwa ini
merupakan perilaku yang dinampakkan seperti halnya pada merak dan banyak jenis
ikan, ikan terumbu karang.
b. Perilaku
mencari makan
Hewan memperlihatkan beberapa tipe
perilaku mencari makan yang berbeda. Beberapa jenis hewan sangat selektif
terhadap apa yang mereka makan. Kelompok hewan ini termasuk pencari makan
khusus (foraging specialist). Contohnya beberapa jenis serangga hanya akan
memakan satu jenis tumbuhan saja. Hewan, hewan lain merupakan hewan generalis
memakan banyak jenis tipe makanan. Contohnya adalah opossum yang memakan
berbagai jenis serangga serta buah.
c. Perilaku
bertahan
Semua jenis hewan sebenarnya
memiliki peluang untuk dimangsa. Bahkan serigala dan singa sering menjadi
mangsa ketika mereka masih sangat muda. Beberapa hewan seperti pada kebanyakan
ulat dan kadal meleburkan warna dirinya dengan latar belakang di mana mereka
berada sehingga seringkali sulit untuk dilihat. Beberapa jenis hewan lain
memiliki kemampuan perilaku untuk melepaskan diri dari pemangsaan, seperti
berlari sangat cepat pada antelope dan berenang dengan cepat pada ikan. Serta
ada beberapa jenis hewan yang melakukan kamuflase (penyamaran) untuk melindungi
diri dari predator. Seperti burung
Ptarmigan pada musim dingin berbulu putih, dan pada musim panas bulunya
berbintik membuat tidak menarik perhatian karena warnanya sangat sesuai dengan
lingkungan.
Pada pembuatan sarang laba-laba
diperlukan serangkaian aksi yang kompleks, tetapi bentuk akhir sarangnya
seluruhnya bergantung pada nalurinya. Bentuk sarang ini adalah khas untuk
setiap spesies, walaupun sebelumnya tidak pernah dihadapkan pada pola khusus
tersebut
d. Perilaku
komunikasi
Perilaku komunikasi memegang
peranan penting bagi hewan. Di samping komunikasi menggunakan tanda (signal)
dan suara, beberapa jenis hewan melakukan komunikasi dengan menggunakan bahan,
bahan kimia. Contohnya pada ngengat yang menggunakan feromon pada saat akan
kawin yang dilepaskan ke udara oleh ngengat betina. Semut juga melakukan
komunikasi dengan feromon untuk mengenal semut lainnya. Serta berbagai serangga
sosial seperti lebah dan rayap. Hewan-hewan tersebut mempunyai berbagai feromon
untuk setiap tingkah laku, misalnya untuk perilaku kawin, perilaku mencari
makan, perilaku adanya bahaya dll.
e. Perilaku
territorial
Perancangan dan pemeliharaan
kawasan (territorial) merupakan perilaku yang diperlihatkan oleh hewan,
terutama oleh serangga, ikan, burung, reptile, dan mamalia. Kawasan
(territoria) digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk makanan, kawin,
dan keamanan. Pemilik kawasan pada umumnya mencoba untuk mengusir individu lain
yang memasuki kawasannya.
f.
Perilaku social
Pola lain dari perilaku adalah
termasuk perilaku penyabaran, yang diperluhatkan oleh individu lain dengan
menjauhi area di mana mereka dilahirkan. Perilaku sosial merupakan hal umum
yang ditemui pada berbagai jenis hewan terutama yang hidup dalam kelompok,
seperti semut, anai-anai, lebah, penguin, dan primata. Perilaku sosial
didefinisikan sebagai interaksi di antara individu, secara normal didalam
spesies yang sama yang saling mempengaruhi satu sama lain. Perilaku sosial
berkembang di antaranya karena adanya kebutuhan untuk reproduksi dan bertahan
dari predator. Perilaku sosial dilakukan dengan banyak tujuan dan diperlihatkan
oleh berbagai macam hewan, mulai hewan yang tak bertulang belakang, ikan,
burung, hingga mamalia.
g. Perilaku
migrasi
Banyak jenis hewan melakukan
perjalanan untuk bersarang atau berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Untuk melakukan hal ini, hewan harus melakukan sendiri jalur terbang dengan
stimulus lingkungan. Pergerakan dengan menggunakan ransangan ini disebut dengan
taxis. Pergerakan serangga ke arah sinar sebagai contoh, disebut dengan
fototaksis positif. Serangga yang menghindari cahaya disebut fototaksis
negatif. Beberapa jenis hewan bergerak dengan sebab yang belum jelas.
Namun banyak juga yang bergerak
disebabkan oleh ransangan kimia yang intensif yang disebut dengan kinesis.
Perjalanan sekolompok hewan yang jarak jauh disebut dengan migrasi.
Burung-burung dari daratan Australia terbang jauh dengan melintasi lautan
hingga ke pantai-pantai di baliran Jawa Timur, angsa dan bebek terbang jauh
dari Kanada ke Amerika Serikat. Tujuan atau orientasi pergerakannya sudah jelas
untuk menghindari kondisi lingkungan yang sangattidak menguntungkan bagi
kelangsungan hidup populasinya atau untuk kegiatan bereproduksi.
4. Kelangsungan Perikehidupan
Kita ketahui bahwa tidak ada
makhluk hidup di muka bumi ini yang mampu bertahan hidup tanpa mengalami
kematian, karena setiap makhluk hidup memiliki waktu kehidupan atau umur yang
terbatas. Misalnya umur pohon kelapa jauh lebih lama daripada umur pohon
jagung. Bagaimanapun sempurnanya perawatan suatu tanaman, jika tanaman tersebut
telah mencapai batas usia maksimal maka akan mati. Pada pohon pisang, setelah
berbuah bisa dipastikan akan segera mati. Namun, jika kamu amati dengan
seksama, sebelum berbuah dan akhirnya mati, pohon pisang tersebut menumbuhkan
tunas baru pada bagian bonggolnya. Tumbuhnya tunas tersebut mengakibatkan
tanaman pisang tetap terjaga kelangsungan hidupnya, meskipun induk pohon pisang
telah mati. Pertumbuhan pohon pisang silih berganti secara alamiah. Hal
tersebut tentunya juga terjadi pada makhluk hidup lain termasuk hewan dan
manusia.
Setiap makhluk hidup telah
dibekali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kemampuan untuk mempertahankan
hidupnya dan menjaga keturunannya supaya tetap lestari. Tetapi, karena
keserakahan makhluk hidup yang lebih tinggi tingkatnya dan ketidakpedulian
manusia akan kelestarian lingkungan hidup telah merusak ekosistem yang baik.
Telah menjadi hukum alam bahwa makhluk yang lemah akan dimangsa oleh makhluk
yang lebih kuat, atau yang kita kenal dengan hukum rimba.
Setiap jenis makhluk hidup dapat
lestari jenisnya sampai saat ini karena berasal dari makhluk hidup sebelumnya
yang sejenis dapat bereproduksi dan berdaptasi dengan lingkungan. Jika makhluk yang
hidup pada zaman dulu tidak mampu bertahan dalam kelangsungan hidupnya, maka
jenis makhluk hidup itu akan punah seperti dinosaurus. Kelangsungan hidup
organisme dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi terhadap lingkungan, seleksi
alam, dan perkembangbiakan.
A. Adaptasi
Adaptasi adalah kemampuan makhluk
hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Ada beberapa cara
penyesuaian diri yang dapat dilakukan, yaitu dengan cara penyesuaian bentuk
organ tubuh, penyesuaian kerja organ tubuh, dan tingkah laku dalam menanggapi
perubahan lingkungan. Dari pengertian adaptasi tersebut, ada tiga macam bentuk
adaptasi, yaitu:
1) adaptasi
fisiologi
2) adaptasi
tingkah laku, 3) adaptasi morfologi.
Adaptasi terlihat dari adanya
perubahan bentuk luar atau dalam suatu makhluk hidup sesuai dengan situasi dan
kondisi lingkungan tempat hidupnya. Perubahan ini bersifat tetap dan khas untuk
setiap jenis sehingga bisa diwariskan kepada keturunannya.
Jenis-jenis Adaptasi
a. Adaptasi fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah
penyesuaian diri makhluk hidup melalui fungsi kerja organorgan tubuh supaya
bisa bertahan hidup. Adaptasi ini berlangsung di dalam tubuh sehingga sulit
untuk diamati.
Ikan air laut menghasilkan urine
yang lebih pekat dibandingkan dengan ikan sungai. Ikan air laut menghasilkan
urine lebih pekat dibandingkan dengan ikan sungai. Hal ini dikarenakan kadar
garam air laut lebih tinggi dari pada kadar garam air tawar. Tingginya kadar
garam menyebabkan ikan kekurangan air sehingga ikan harus banyak minum.
Akibatnya, kadar garam dalam darahnya menjadi tinggi sehingga untuk mengurangi
kepekatan cairan dalam tubuhnya, ikan mengeluarkan urine yang pekat.
Kekebalan serangga terhadap
insektisida akan meningkat (menjadi kebal) karena penggunaan insektisida secara
terusmenerus. Hewan-hewan herbivor beradaptasi terhadap makanan secara
fisiologis. Sapi, kambing, kerbau, dan domba merupakan hewan herbivor yang
dapat mencerna zat makanan di dalam lambung. Rayap dan Teredo navalis yang
hidup di kayu galangan kapal dapat mencerna kayu dengan bantuan enzim selulose.
Selain hewan, manusia dan tumbuhan
dapat beradaptasi dengan lingkungannya secara fisiologi. Tubuh manusia mampu
menambah jumlah sel darahmerah apabila berada di pegunungan yang lebih tinggi. Hal
tersebut dapat mengikat oksigen lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan sel-sel
tubuh.
Mata manusia dapat menyesuaikan
dengan intensitas cahaya yang diterimanya. Ketika di tempat gelap, maka pupil
kita akan membuka lebar. Sebaliknya di tempat yang terang, pupil kita akan
menyempit. Melebar atau menyempitnya pupil mata adalah upaya untuk mengatur
intensitas cahaya.
Jumlah sel darah merah orang yang
hidup di daerah pantai lebih sedikit dibandingkan orang yang tinggal di daerah
pegunungan. Hal ini disebabkan karena tekanan parsial oksigen di daerah pantai
lebih besar dibandingkan daerah pegunungan. Jika tekanan parsial oksigen
rendah, maka dibutuhkan lebih banyak sel darah merah untuk mengikat oksigen.
Tekanan parsial oksigen adalah perbandingan kadar oksigen di udara dibandingkan
dengan kadar gas lain di udara.
Bau yang khas pada bunga dapat
mengundang datangnya serangga untuk membantu penyerbukan. Bunga jenis ini
menghasilkan madu atau nectar, dan serbuk sarinya mudah melekat. Akar dan daun
pada tumbuhan tertentu dapat menghasilkan zat kimia yang berbau khas yang dapat
menghambat tumbuhan lain di dekatnya. Contoh di atas termasuk dalam adaptasi
fisiologi.
b. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah
penyesuaian diri terhadap lingkungan dengan mengubah tingkah laku supaya dapat
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adaptasi tingkah laku dapat berupa hasil
belajar maupun insting/naluri sejak lahir. Terdapat dua macam tingkah laku,
yaitu sebagai berikut.
1) Tingkah
laku sosial, untuk hewan yang hidup berkelompok.
2) Tingkah
laku untuk perlindungan. Contohnya babi hutan akan menggali lubang
persembunyian dengan kukunya ketika melihat singa, trenggiling akan menggulung
tubuhnya bila bertemu musuh. Contoh lain adalah kamuflase, misalnya pada
bunglon dan gurita.
Mimikri Bunglon
Mimikri adalah kemampuan untuk
meniru bentuk, suara, dan tingkah laku seperti hewan lain sehingga akan dikira
predator atau hewan yang beracun atau berbahaya. Migrasi juga merupakan bentuk
adaptasi tingkah laku dengan cara bergerak dari satu kawasan ke kawasan lain
dan kemudian kembali lagi. Hewan bermigrasi dengan berbagai alasan antara lain
memperoleh iklim yang baik, makanan yang cukup, tempat yang lebih aman, dan
kepentingan perkembangbiakan.
Hewan yang hidup di daerah kutub
atau daerah yang mengalami pergantian empat musim yang perbedaan suhunya
ekstrim, biasanya melakukan hibernasi. Hibernasi adalah tidur dalam jangka
waktu yang lama ketika suhu lingkungan rendah. Aktivitas tubuh seperti denyut
jantung dan napas sangat pelan sehingga hanya memerlukan energi/makanan yang
sedikit. Contohnya kelelawar, ular, dan beruang kutub. Selama hibernasi hewan
menggunakan lemak dalam tubuh sebagai sumber energi.
Kucing mengincar mangsanya dengan
cara mendekam. Ketika mangsa mendekat dan lengah, maka kucing akan meloncat dan
menerkam mangsanya. Tingkah laku demikian untuk menghemat energi. Lain halnya
dengan cicak. Cicak akan memutuskan ekornya pada saat berada dalam ancaman.
Paus naik ke permukaan air ketika akan mengambil oksigen untuk pernapasannya.
Hewan rayap itu buta, untuk menemukan jalan dia membuat terowongan dari tanah
yang dapat menuntunnya menuju ke tempat makanan atau sarangannya.
c. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah
penyesuaian makhluk hidup melalui perubahan bentuk organ tubuh yang berlangsung
sangat lama untuk kelangsungan hidupnya. Adaptasi ini sangat mudah dikenali dan
mudah diamati karena tampak dari luar. Meskipun hewan dapat bergerak bebas,
hewan juga melakukan beragam adaptasi morfologi untuk menyesuaikan dengan
tempat hidup dan jenis makanannya. Adaptasi morfologi berupa penyesuaian tubuh
hewan seperti ukuran dan bentuk gigi, penutup tubuh, dan alat gerak hewan. Gigi
disesuaikan dengan jenis makanannya, sehingga gigi hewan pemakan daging berbeda
dengan hewan pemakan tumbuhan. Penutup tubuh seperti rambut, duri, sisik, dan
bulu yang tumbuh dari kulit disesuaikan dengan kondisi lingkungannya sehingga
dapat membantu hewan untuk tetap bertahan hidup. Contoh yang lain adalah
variasi tulang belakang dan sirip pada ikan pari disebabkan perbedaan suhu saat
pertumbuhannya, jenis kelamin kura-kura ditentukan oleh variasi temperatur saat
inkubasi (pengeraman), serta bentuk paruh dan kaki burung bervariasi sesuai
dengan jenis makanan dan habitatnya.
Variasi Bentuk Paruh
Burung
Variasi Bentuk Kaki Burung
Burung kolibri memiliki paruh
panjang dan runcing. Paruh ini digunakan untuk menghisap madu. Serangga juga
beradaptasi dengan lingkungan melalui bentuk organ tubuhnya. Organ tubuh jangkrik dan belalang yang
digunakan untuk beradaptasi adalah mulut. Mulut kedua hewan tersebut mempunyai
rahang bawah dan atas yang kuat. Selain hewan, tumbuhan juga beradaptasi dengan
lingkungannya melalui bentuk tubuhnya, yaitu:
1) Tumbuhan
Xerofit
Tumbuhan xerofit memiliki struktur
fisik yang sesuai untuk bertahan hidup pada suhu yang ekstrim panas dan
kekurangan air. Contohnya adalah kaktus dan sukulen. Kaktus dapat bertahan
hidup dalam kondisi kering.
Bentuk adaptasinya yaitu daun
tidak berbentuk lembaran sebagaimana tumbuhan lainnya, tetapi mengalami
modifikasi menjadi duri atau sisik. Kaktus mampu menyimpan air pada batangnya.
Seluruh permukaannya dilapisi oleh lilin untuk mengurangi penguapan. Sistem perakarannya
panjang untuk mencapai tempat yang jauh yang mengandung air.
2) Tumbuhan
Hidrofit
Tumbuhan hidrofit adalah tumbuhan
yang hidup di air. Adaptasi morfologi yang dilakukan antara lain memiliki
rongga udara di antara sel-sel tubuhnya sehingga dapat mengapung. Daunnya lebar
dan stomata terletak di permukaan atas. Contoh tumbuhan hidrofit adalah
kangkung, eceng gondok, dan teratai.
3) Tumbuhan
Higrofit
Tumbuhan higrofit adalah tumbuhan yang hidup di lingkungan
lembab dan basah.
Adaptasinya yaitu mempunyai daun
yang tipis dan lebar.
B. Seleksi Alam
Dalam kehidupan sehari-hari,
seleksi berarti pemilihan, dan alam berarti segala sesuatu yang ada di sekitar
makhluk hidup. Jadi, seleksi alam adalah pemilihan makhluk hidup yang dapat
hidup terus dan tidak dapat hidup terus yang dilakukan oleh lingkungan sekitar
dan terjadi secara alamiah. Bisa juga diartikan sebagai musnahnya beberapa
makhluk hidup karena tidak dapat menyesuaikan diri.
1. Faktor penyeleksi alam
Seleksi alam ditentukan oleh
beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
a. Suhu
lingkungan
Di daerah dingin dijumpai
hewan-hewan mamalia yang berbulu tebal, sedangkan di daerah tropis hewan
mamalianya berbulu tipis. Dalam hal ini, yang menjadi faktor penyeleksi adalah
suhu lingkungan. Karena hewan mamalia yang berbulu tipis umumnya tidak akan
bisa menyesuaikan diri pada lingkungan yang bersuhu sangat rendah sehingga
hewan tersebut akan tereliminasi dan punah. Beruang kutub berbulu tebal untuk
membuatnya tetap hangat. Selain bulunya, beruang kutub juga mempunyai lapisan
lemak yang digunakan untuk menghangatkan tubuhnya.
b. Makanan
Setiap makhluk hidup memerlukan
makanan. Makanan adalah kebutuhan primer makhluk hidup. Makanan akan menjadi
faktor penyeleksi jika terjadi perebutan makanan. Makhluk hidup yang kuat dan
mempertahankan makanannya akan dapat berlangsung hidup, sebaliknya hewan yang
lemah dan tidak mampu bersaing dalam perebutan makanan akan tereliminasi dan
punah.
c. Cahaya
matahari
Faktor
matahari berhubungan dengan penyeleksian tumbuhan tingkat tinggi yang
berklorofil. Karena tumbuhan menggunakan cahaya matahari untuk pembentukan
makanan.
2. Kepunahan makhluk hidup
Berdasarkan temuan fosil-fosil,
dapat diketahui bahwa banyak jenis makhluk hidup yang hidup pada jaman dahulu
tidak ditemukan lagi sekarang. Tetapi ada juga yang masih hidup sampai sekarang
yaitu capung. Capung adalah hewan yang hidup pada jaman karbon sampai sekarang.
Hewan lain yang hampir mirip dengan hewan yang telah punah adalah kadal dan
komodo. Ketiga hewan tersebut adalah hewan yangtergolong dalam fosil hidup.
Dinosaurus merupakan contoh hewan
yang telah punah. Para ilmuan berpendapat bahwa yang menyebabkan kepunahan
hewan ini adalah perubahan iklim. Iklim yang terganggu akan menyebabkan
kematian banyak jenis tumbuhan sehingga dinosaurus herbivor tidak bisa
mendapatkan makanan. Sedangkan Dinosaurus karnivor dapat bertahan hidup untuk
sementara. Tetapi dengan berjalannya waktu, hewan karnivorpun mati.
Saat ini, tingkah laku manusia
banyak mempengaruhi proses seleksi alam. Perburuan liar, penangkapan, perusakan
habitat, pencemaran lingkungan dapat mempercepat laju seleksi yang tidak alami.
Akibat rusaknya habitat, banyak hewan liar yang harus bermigrasi ke daerah yang
kurang sesuai dengan lingkungan alaminya. Mereka harus berjalan
berkilokilometer untuk memperoleh makanan yang cukup.
Di Indonesia, terdapat banyak
tumbuhan dan hewan yang hampir punah. Contohnya adalah harimau jawa, badak
bercula satu, badak bercula dua, dan burung jalak bali. Hewan yang hampir punah
tersebut disebabkan karena kerusakan habitat oleh manusia, perburuan liar,
kemampuan adaptasinya rendah, serta tingkat reproduksi yang rendah.
C. Perkembangbiakan Makhluk Hidup
Perkembangbiakan makhluk hidup
dapat dipergunakan untuk melangsungkan kehidupan. Karena bila tanpa
perkembangbiakan, maka makhluk hidup akan punah. Misalkan pada suatu perkebunan
terdapat populasi belalang yang terkena radiasi, sehingga belalang jantan
menjadi mandul dan tidak dapat melakukan perkawinan dengan belalang betina.
Ketidakmampuan belalang untuk berkembang biak akan menyebabkan belalang di
perkebunan tersebut punah. Jadi, belalang tersebut tidak dapat menjaga
kelestarian jenisnya karena tidak mampu berkembang biak.
Makhluk hidup ada yang mempunyai
daya berkembang biak tinggi dan rendah. Makhluk hidup yang mempunyai daya
berkembang biak tinggi akan mudah menjaga kelestarian hidupnya. Misalnya tikus,
kucing, ilalang, dan enceng gondok.
Makhluk hidup yang mempunyai daya
berkembang biak rendah sangat sulit menjaga kelangsungan dan kelestarian
jenisnya. Misalnya gajah, hanya beranak sekali dalam dua tahun dan setiap kali
beranak hanya seekor. Demikian pula badak, komodo, kancil, burung merak,
jerapah, harimau, dan ikan paus biru yang hanya menghasilkan dua anak dalam
waktu 10 tahun. Hewan yang memiliki daya berkembang biak rendah merupakan
hewan-hewan yang terancam kelestariannya.
Selain hewan, tumbuhan juga
dilindungi oleh negara karena kelangkaan
dan daya berkembang biaknya rendah.
Misalnya tumbuhan yang dilindungi oleh negara adalah bunga bangkai
(Refflesia Arnoldi), anggrek bulan Ambon, kemang, kepuh, kayu ulin Kalimantan, kemenyan, dan gaharu dilindungi oleh negara.
5. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan Penduduk ialah suatu
perubahan populasi sewaktu-waktu, dan bisa dihitung sebagai perubahan dalam
jumlah individu dalam sebuah populasi memakai “per waktu unit” untuk
pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi
selalu mengarah pada manusia, dan sering dipakai secara informal untuk sebutan
demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan dipakai untuk merujuk pada
pertumbuhan penduduk dunia.
A. Faktor Yang mempengaruhi Pertumbuhan Penduduk 1) Kelahiran
(Fertilitas/Natalitas)
Kelahiran adalah banyaknya bayi yang dilahirkan oleh
seorang wanita selama periode suburnya (sekitar usia 15 – 45 tahun). Kemampuan
untuk melahirkan disebut fekunditas. Kelahiran bersifat menambah jumlah
penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan
yang mendukung kelahiran (pro natalitas). Faktor-faktor penunjang kelahiran
(pro natalitas) antara lain:
• Kawin
pada usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu.
• Anak
dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
• Anggapan
bahwa banyak anak banyak rejeki.
• Anak
menjadi kebanggaan bagi orang tua.
• Anggapan
bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak
laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.
Secara umum,
(Fertilitas/Natalitas) meliputi 3 macam kelahiran, yaitu :
a) Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth
Rate/CBR )
Angka kelahiran kasar adalah
angka yang menunjukan banyaknya yang lahir hidup setiap 1000 penduduk dalam
waktu 1 tahun. Rumus untuk menghitung angka kelahiran kasar adalah
CBR = L/P x 1.000 Keterangan:
• CBR
: Angka Kelahiran Kasar (Crude Brith Rate)
• L
: Jumlah kelahiran selama satu tahun
• P
: Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
Adapun 3 kriteria angka kelahiran
kasar, yaitu :
Angka kelahiran rendah, apabila
jumlah kelahiran < 20.
Angka kelahiran sedang, apabila
jumlah kelahiran antara 20-30
Angka kelahiran tinggi, apabila
jumlah kelahiran > 30
b) Angka Kelahiran Khusus (Age Specific
Birth Rate/ASBR)
Angka kelahiran khusus adalah angka
yang menunjukan banyaknya kelahiran setiap 1.000 penduduk wanita pada kelompok
usia tertentu. Rumus untuk menghitung angka kelahiran khusus adalah :
ASBR = Li/Pi x 1.000 Keterangan:
• ASBR
: Age Specific Birth Rate (Angka Kelahiran Khusus)
• Li
: Jumlah kelahiran dari wanita pada kelompok usia tertentu
• Pi
: Jumlah penduduk wanita umur tertentu pada pertengahan tahun
c) Angka Kelahiran Umum (General Fertility
Rate/GFR)
Angka Kelahiran Umum adalah angka yang menunjukan
banyaknya kelahiran setiap 1.000 wanita yang berumur 15-49 tahun dalam setahun.
Rumus untuk menghitung angka kelahiran umum adalah :
GFR = L/(W(15-49)) x 1.000 Keterangan:
• GFR
: General Fertility Rate (Angka Kelahiran Umum)
• L
: Jumlah kelahiran selama setahun
• W
(15-49) : Jumlah penduduk wanita umur 15-49 tahun pada pertengahan tahun
2) Kematian (Mortalitas)
Kematian atau mortalitas adalah
jumlah orang yang meninggal untuk tiap 1.000 penduduk dalam waktu 1 tahun.
Angka kematian dibedakan menjadi 3 macam, yakni :
a) Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate/CDR)
Angka kematian kasar adalah angka yang menunjukkan kematian
setiap 1.000 penduduk dalam waktu setahun. Rumus menghitung Crude Death Rate
atau Angka Kematian Kasar,yaitu:
CMR = M/P x 1.000 Keterangan:
CDR : Crude Death Rate (Angka
Kematian Kasar)
M : Jumlah kematian selama setahun P : Jumlah
penduduk pertengahan tahun.
Adapun 3 kriteria kematian kasar,
yakni :
• Angka
kematian rendah, apabila kematian < 10.
• Angka
kematian sedang, apabila kematian 10-20.
• Angka
kematian tinggi, apabila kematian > 20.
b) Angka Kematian Khusus (Age specific
Death Rate)
Angka kematian khusus adalah angka yang menunjukkan
banyaknya kematian sertiap 1.000 penduduk penggolongan tertentu dalam jangka
waktu 1 tahun. Rumus unutk menghitung adalah :
ASDR = Mi/Pi x 1.000 Keterangan:
• ASDR
: Age specific Death Rate (Angka Kematian Khusus)
• Mi
: Jumlah kematian pada kelompok penduduk tertentu
• Pi
: Jumlah penduduk pada kelompok tertentu
c) Angka Kematian Bayi (Infant Mortality
Rate)
Angka Kematian Bayi adalah angka
yang menunjukkan banyaknya kematian bayi berumur < 1 tahun setiap 1.000
kelahiran bayi hidup dalam 1 tahun. Rumus untuk menghitung angka kematian bayi
adalah :
IMR = Jumlah kematian bayi umur < 1/Jumlah kelahiran bayi hidup x
1.000 Keterangan :
Berikut adalah kriteria angka
kematian bayi, yakni :
• IMR
< 35 digolongkan menjadi kematian angka bayi rendah.
• IMR
antara 35-75 digolongkan menjadi angka kematian bayi sedang.
• IMR
antara 75-125 digolongkan menjadi angka kematian bayi tinggi.
• IMR
> 125 digolongkan menjadi angka kematian bayi sangat tinggi.
Faktor Pendukung Kematian
Faktor ini menyebabkan jumlah
kematian semakin besar, yang termasuk faktor ini adalah :
Sarana kesehatan yang kurang
memadai.
Rendahnya kesadaran masyarakat
terhadap kesehatan.
Terjadinya berbagai bencana alam.
• Terjadinya
peperangan.
• Terjadinya
kecelakaan lalu lintas dan industri.
• Tindakan
bunuh diri dan pembunuhan.
Faktor Penghambat Kematian (Antimortalitas)
Faktor ini dapat menyebabkan
tingkat kematian rendah, yang termasuk faktor ini adalah :
• Lingkungan
hidup sehat.
• Fasilitas
kesehatan tersedia dan lengkap.
• Tingkat
kesehatan masyarakat tinggi.
• Semakin
tinggi tingkat pendidikan penduduk.
3) Migrasi
Migrasi ada dua, migrasi yang dapat
menambah jumlah penduduk disebut migrasi masuk (imigrasi), dan yang dapat
mengurangi jumlah penduduk disebut imigrasi keluar (emigrasi).
a) Penduduk
yang pergi (emigrasi)
Penduduk yang pergi (emigrasi) dapat
diartikan seorang penduduk yang pindah dari suatu wilayah ke wilayah lainnya
dengan tujuan untuk menetap, bekerja, sekolah, atau lain sebagainya. Adanya
penduduk yang pergi (emigrasi) ini akan mengakibtkan menurunnya jumlah penduduk
dalam daerah asalnya tersebut.
b) Penduduk
yang datang (Imigrasi)
Imigrasi dapat diartikan penduduk yang datang ke daerah
tersebut dari daerah lain. Imigrasi ini dapat menyebabkan peningkatan jumlah
penduduk dalam daerah tersebut. Migrasi merupakan bagian dari mobilitas
penduduk. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke
daerah lain. Mobilitas penduduk ada yang bersifat permanen dan ada pula yang
bersifat non permanen. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke
tempat lain di lokasi geografis yang berbeda dengan tujuan menetap.
Migrasi dapat terjadi di dalam satu
negara maupun antarnegara, berdasarkan hal tersebut migrasi dibagi atas dua
golongan yaitu: migrasi internasional, yaitu perpindahan penduduk antara satu
negara dengan negara lain, miigrasi nasional, yaitu perpindahan penduduk di
dalam satu negara. Jenis-jenis transmigrasi berdasarkan pelaksanaannya,
transmigrasi di Indonesia dapat dibedakan atas: transmigrasi umum, transmigrasi
khusus, transmigrasi spontan atau swakarsa, transmigrasi swakarya, transmigrasi
lokal, transmigrasi bedol desa, dan transmigrasi sektoral. Secara umum
faktor-fakor yang menyebabkan terjadinya migrasi dapat disebutkan sebagai
berikut:
• Faktor
ekonomi, ingin mencari kehidupan yang lebih baik di tempat yang baru
• Faktor
keselamatan, migrasi karena daerah yang sebelumnya sering dilanda bencana alam
seperti longsor
• Faktor
keamanan, migrasi yang terjadi akibat adanya gangguan keamanan di tempat mereka
sebelumnya
• Faktor
politik, migrasi yang terjadi oleh adanya perbedaan politik di antara warga
masyarakat.
Macam-Macam Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk bisa
dibedakan menjadi tiga macam, yakni sebagai berikut :
1) Pertumbuhan
penduduk alami (Natural Population Increase)
Pertumbuhan penduduk alami ialah pertumbuhan penduduk yang
didapat dari selisih jumlah kelahiran dengan jumlah kematian. Hal ini bisa
dihitung dengan rumus:
T = L – M Keterangan
• T
= jumlah pertumbuhan penduduk per tahun
• L
= jumlah kelahiran per tahun
• M
= jumlah kematian per tahun
2) Pertumbuhan
penduduk migrasi
Pertumbuhan penduduk migrasi yaitu pertumbuhan penduduk
yang didapat dari selisih jumlah migrasi masuk (imigrasi) dan jumlah migrasi
keluar (emigrasi). Hal ini bisa dihitung dengan rumus:
T = I – E
Keterangan
• T
= jumlah pertumbuhan penduduk per tahun
• I
= jumlah migrasi masuk per tahun
• E
= jumlah migrasi keluar per tahun
3) Pertumbuhan
penduduk total (Total Population Growth)
Pertumbuhan
penduduk total ialah pertumbuhan penduduk yang dihitung dari selisih jumlah
kelahiran dengan jumlah kematian ditambah dengan selisih jumlah imigrasi dengan
jumlah emigrasi. Hal ini bisa dihitung dengan rumus: T = (L – M) + ( I – E) Keterangan:
• T
= Pertumbuhan penduduk per tahun
• L
= Jumlah kelahiran per tahun
• M
= Jumlah kematian per tahun
• I
= Jumlah imigran (penduduk yang masuk ke suatu negara/wilayah untuk menetap)
per tahun
• E
= Jumlah emigran (penduduk yang meninggalkan/pindah ke wilayah/negara lain) per
tahun
B. Kesimpulan
Pertumbuhan penduduk mempengaruhi pada
perkembangan sosial dalam masyarakat. Perkembangan sosial seperti seperti
kurangnya pangan, rendahnya pendidikan masyarakat dll. Cara mengatasi
pembludakan pertumbuhan penduduk tersebut adalah dengan Membuat Undang-Undang
yang jelas tentang umur minimum pernikahan, Program KB (keluarga berencana) dan
sosialisasi pada masyarakat.
Pertumbuhan penduduk sebuah desa di
pinggiran kota yang menyebabkan banyaknyak urban masuk pada desa yang telah
menimbulkan berbagai persoalan di kawasan itu. Berbagai persoalan yang muncul
antara lain, tata ruang desa kota yang tidak beraturan, kondisi lingkungan yang
merosot, ketahanan pangan yang terancam, konflik sosial yang cenderung meluas
dan dipertahankan oleh ekslufisitas kelompok di dalam komunitas itu dan ancaman
tidak adanya mekanisme penyelesaian konflik yang baik.
Hal tersebut yang mengakibatkan berbagai
persoalan muncul dan cenderung tidak terkendali atas terbentuknya suatu kawasan
desa-kota yang tidak terencana dengan baik. Sebagai konsekwensi dari meluasnya
wilayah-wilayah perkotaan adalah berkembangnya desa-desa di daerah pinggiran
kota menjadi kawasan desa-kota. Fenomena ini hampir terjadi di berbagai kota di
Indonesia dan hingga saat ini tidak ada suatu sistem perencanaan yang terpadu
untuk mengatasi persoalan itu.
6. Kesejahteraan Makhluk Hidup
Manusia selain sebagai makhluk individu
(perseorangan) mempunyai kehidupan jiwa yang menyendiri namun manusia juga
sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Manusia lahir,
hidup dan berkembang dan meninggal dunia di dalam masyarakat. Menurut
Aristoteles, Bahwa manusia itu adalah ZOON POLITICON artinya bahwa manusia itu
sbg makhluk pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama
manusia lainnya, jadi makhluk yg suka bermasyarakat. Dan oleh karena sifatnya
suka bergaul satu sama lain, maka manusia disebut makhluk sosial.
Manusia juga sebagai mahkluk individu
yang memiliki pemikiran-pemikiran tentang apa yang menurutnya baik dan sesuai
dengan tindakan-tindakan yang akan diambil. Manusia pun berlaku sebagai makhluk
sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya dengan lingkungan dan tempat
tinggalnya. Manusia atau orang dapat diartikan dari sudut pandang yang
berbeda-beda, baik itu menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau
secara campuran. secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens
(bahasa latin untuk manusia) yang merupakan sebuah spesies primata dari
golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Manusia adalah makhluk hidup ciptaan
tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk kepada aturan hukum alam,
mengalami kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, mati, dan seterusnya, serta
terkait dan berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan
timbal balik positif maupun negatif.
Manusia merupakan bagian dari kehidupan
mahluk sosial yang ada di muka bumi. Kumpulan dari manusia inilah yang kemudian
dikenal sebagai masyarakat.yang secara umum dapat diartikan sebagai sebuah
kesatuan yang terjadi antara dua orang atau lebih manusia yang berada dalam
sebuah wilayah dalam jangka waktu tertentu atau Masyarakat adalah sekelompok
orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana
sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam
kelompok tersebut.
Berbicara mengenai lingkungan masyarakat
tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Terlebih kita sendiri berada dalam
lingkungan masyarakat. Entah kita sedang di pedesaan, perkampungan atau
perkotaan kita tetap hidup di dalam suatu lingkungan dengan masyarakat lain.
Lingkungan masyarakat adalah tempat kita untuk bersosialisasi dengan orang
lain.
Karena sebagai manusia kita
merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.
Lingkungan dapat memberikan sumber
kehidupan agar manusia dapat hidup sejahtera. Lingkungan hidup menjadi sumber
dan penunjang hidup. Dengan demikian, lingkungan mampu memberikan kesejahteraan
dalam hidup manusia. Pada masa sekarang, manusia tetap menginginkan lingkungan
sebagai tempat maupun sumber kehidupannya yang dapat mendukung kesejahteraan
hidup. Melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mengusahakan lingkungan
yang sebelumnya tidak memiliki daya dukung serta lingkungan yang tidak dapat
untuk hidup (unhabitable) menjadi lingkungan yang memiliki daya dukung yang
baik dan bersifat habitable.
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan
dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita
bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga
kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997
Pasal 1 Angka 1 mengartikan Lingkungan Hidup sebagai “kesatuan ruang dengan
kesemua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan
manusia serta makhluk hidup lainnya”.
Manusia sedikit demi sedikit mulai
menyesuaikan diri pada alam lingkungan hidupnya maupun komunitas biologis di
tempat mereka hidup. Perubahan alam lingkungan hidup manusia tampak jelas di
kota-kota, dibanding dengan pelosok dimana penduduknya masih sedikit dan
primitif. Manusia merupakan komponen biotik lingkungan yang memiliki kemampuan
berfikir dan penalaran yang tinggi. Disamping itu manusia memiliki budaya,
pranata sosial dan pengetahuan serta teknologi yang makin berkembang. Peranan
manusia dalam lingkungan ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat
negative.
Manusia memandang alam lingkungannya
dengan bermacam-macam kebutuhan dan keinginan. Manusia bersaing dengan spesies
lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini manusia memiliki
kemampuan lebih besar dibandingkan organisme lainnya, terutama dalam penggunaan
sumber-sumber alamnya.
Karakteristik interaksi manusia dan
lingkungan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, begitu juga satu
masyarakat dengan masyarakat lainnya. Pada masyarakat yang tradisional, ada
kecenderungan lingkungan lebih dominan dalam memengaruhi kehidupan manusia
seperti halnya dalam lingkungan masyarakat pedesaan. Sedangkan pada daerah yang
masyarakatnya memiliki tingkat peradaban yang lebih maju, manusia cenderung
dominan sehingga lingkungannya telah banyak berubah dari lingkungan alam
menjadi lingkungan binaan hasil karya manusia.
Akan tetapi masih banyak masyarakat kita
yang memiliki kebiasaan yang tidak ramah lingkungan, seperti pengrusakan
lingkungan demi keuntungan semata. Seharusnya manusia berhati-hati dalam
mengolah tanah, air, udara mahluk mahluk yang ada di dunia ini. Khususnya pada
lingkungan, manusia telah begitu banyak menimbulkan kerusakan pada bumi ini.
Limbah, kotoran, sampah dibuang begitu saja tanpa mengindahkan lingkungandan
mahluk lain. Responnya dari lingkungan dapat kita lihat seperti menyebabkan
penyakit, bahkan menjadi bencana alam. Perubahan lingkungan berdampak positif
berarti baik dan menguntungkan bagi kehidupan manusia maupun lingkungan
tersebut, serta berdampak negatif berarti tidak baik dan tidak menguntungkan
karena dapat mengurangi kemampuan alam lingkungan hidupnya untuk menyokong
kehidupannya maupun merugikan manusia. Perubahan lingkungan sebagai akibat
tindakan manusia tidak jarang memberikan dampak negative, yaitu kerusakan
lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup merupakan problema besar yang di
alami umat manusia sekarang ini. Bahkan, isu tentang HAM, demokrasi, dan
lingkungan.
Seharusnya antara manusia dan lingkungan
memiliki hubungan ketergantungan yang sangat erat. manusia dalam hidupnya
senantiasa berinteraksi dengan lingkungan di mana manusia itu berada. Karena
lingkungan, yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan,
dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lainnya.
Dapat kita ketahui bahwa manusia dan
lingkungan itu mempunyai hubungan timbal balik. Manusia sangat membutuhkan
suatu lingkungan yang baik, aman dan kondusif. Karena dengan lingkungan
tersebut manusia dapat berkembang dengan baik pula. Dan sebaliknya lingkungan
juga membutuhkan manusia, dengan manusia yang baik maka baik pula
lingkungannya.
Manusia dapat berhubungan dengan
lingkungannya adalah dengan melakukan aktivitas[5]. Dalam psikologi, aktivitas
adalah sebuah konsep yang mengandung arti fungsi individu dalam interaksinya
dengan sekitarnya. Aktivitas psikis adalah hubungan khusus dari benda hidup
dengan lingkungan. Ia menengahi, mengatur dan mengontrol hubunganhubungan
antara organisme dan lingkungan. Aktivitas psikis didorong oleh kebutuhan yang
diarahkan pada obyek yang dapat memenuhi kebutuhan ini, dan dipengaruhi oleh
sistem tindakan-tindakan.
Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya
merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya
bagi dirinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang, karena manusia
hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba
terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Manusia bertindak sosial
dengan cara memanfaatkan alam dan lingkungan untuk menyempurnakan serta
meningkatkan kesejahteraan hidupnya demi kelangsungan hidup sejenisnya.
Kemampuan kita untuk menyadari hal
tersebut akan menentukan bagaimana hubungan kita sebagai manusia dan lingkungan
kita. Hal ini memerlukan pembiasaan diri yang dapat membuat kita menyadari
hubungan manusia dengan lingkungan. Manusia memiliki tugas untuk menjaga
lingkungan demi menjaga kelansungan hidup manusia itu sendiri dimasa akan
datang. Kita sebagai manusia wajib menyadari bahwa kita saling terkait dengan
lingkungan yang mengitari kita.
SUMBER
http://www.gurupendidikan.co.id/pertumbuhan-penduduk-pengertian-faktor-dan-macambeserta-rumusnya-secara-lengkap/ http://www.akuntansilengkap.com/ekonomi/pengertian-pertumbuhan-penduduk/ http://tubagusprasetya.postach.io/post/perkembangan-pertumbuhan-penduduk-di-indonesia http://ipsgampang.blogspot.com/2014/08/jumlah-dan-pertumbuhan-penduduk.html
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196805091994031KUSNADI/BUKU_SAKU_BIOLOGI_SMA%2CKUSNADI_dkk/Kelas_X/Bab.K.ha
yati.pdf https://www.scribd.com/document/339972259/Perilaku-Makhluk-Hidup https://unitedscience.wordpress.com/ipa-3/kelangsungan-hidup-makhluk-hidup/






0 komentar:
Posting Komentar