PERKEMBANGAN ILMUALAM SERTA ASPEK
BERPIKIR SECARA
ILMIAH DAN NON-ILMIAH
BERPIKIR SECARA
ILMIAH DAN NON-ILMIAH
OLEH :
KELOMPOK 2 (BEEDLITE OF AJ)
BETHANIE SANTOSO / 020112170015
EDWARD HUWAE / 02012170011
LIVANIA KOLINUG / 02012170021
TESALONIKA ARIWIBI / 02012170001
Aspek
Berpikir Ilmiah
I. CARA
BERPIKIR DEDUKSI DAN INDUKSI
Metode Berpikir Deduksi
Deduksi merupakan
proses pengambilan kesimpulan sebagai akibat dari alasan-alasan yang diajukan
berdasarkan hasil analisis data. Proses pengambilan kesimpulan dengan cara
deduksi didasari oleh alasan-alasan yang benar dan valid. Proses pengambilan
kesimpulan berdasarkan alasan-alasan yang valid atau dengan menguji hipotesis
dengan menggunakan data empiris disebut proses deduksi dan metodenya disebut
metode deduktif dan penelitiannya disebut penelitian deduktif. Proses deduksi
selalu digunakan pada penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif.
Deduksi
berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan
kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang
umum, Deduksi adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam
bagian-bagiannya yang khusus. Penarikan kesimpulan secara
deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus.
Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Metode
berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Metode Berpikir Induksi
Induksi didefinisikan
sebagai proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan pada satu atau dua fakta
atau bukti-bukti. Pendekatan induksi sangat berbeda dengan deduksi. Tidak ada
hubungan yang kuat antara alasan dan konklusi. Proses pembentukan hipotesis dan
pengambilan kesimpulan berdasarkan data yang diobservasi dan dikumpulkan
terlebih dahulu disebut proses induksi dan metodenya disebut metode
induktif dan penelitiannya disebut penellitian induktif. Dengan demikian
pendekatan induksi mengumpulkan data terlebih dahulu baru hipotesis dibuat jika
diinginkan atau konklusi langsung diambil jika hipotesis tidak digunakan.
Proses induksi selalu digunakan pada penelitian dengan pendekatan kualitatif.
Penalaran induksi merupakan proses berpikir yang berdasarkan kesimpulan umum
pada kondisi khusus. Kesimpulan menjelaskan fakta sedangkan faktanya mendukung
kesimpulan.
Induksi adalah pengambilan kesimpulan secara umum dengan berdasarkan
pengetahuan yang diperoleh dari fakta-fakta khusus.
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan
bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang
diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum
diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
II. SIKLUS ILMU
Sumber ilmu pengetahuan mempertanyakan dari mana ilmu
pengetahuan itu diperoleh. Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan dari akal (ratio). Sehingga timbul faham atau
aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme. Aliran empirisme yaitu faham
yang menyusun teorinya berdasarkan pada empiri atau pengalaman. Tokoh-tokoh
aliran ini misalnya David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704), Berkley.
Sedang rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan ratio. Tokoh-tokoh aliran ini
misalya Spinoza, Rene Descartes. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah
induksi, sedang rasionalisme menggunakan metode deduksi.
Siklus
ilmu memiliki nama lain reduksionisme artinya adalah keyakinan bahwa hal-hal
yang kompleks selalu bisa dipahami dengan cara mereduksinya menjadi bagian
sederhana. Sebuah materi dianggap sebagai dasar dari semua bentuk eksistensi,
dan dunia dianggap sebagai dasar dari semua bentuk eksistensi, dan dunia materi
dianggap sebagai suatu kumpulan dari objek-objek yang terpisah yang dirakit
menjadi sebuah mesin raksasa. Dalam proses reduksionisme terjadi kehilangan
makna karena “keseluruhan lebih besar dari penjumlahan komponen-komponennya”.
Hal
ini dimulai ketika para ilmuwan memulai penyelidikannya tentang materi lebih
jauh ke objek atom dan subatom. Landasan fisika klasik ternyata tidak sanggup
menjawab fenomena atom dan subatom yang penuh ketidakpastian. Hingga muncullah
subjek-subjek relativitas dan quantum dalam ilmu fisika modern yang tidak dapat
dijelaskan dengan paradigma lama ilmu fisika. Penelitian tentang subatom dan
atom yang lebih seksama menunjukan bahwa partikel-partikel subatom tidak
mempunyai makna sebagai entitas yang terpisah. Akan tetapi semua itu bisa
dipahami hanya sebagai interkoneksi atau korelasi.
“The Structure of Scientific Revolutions”,
tidak sedikit mengubah presepsi orang tentang science. Jika sebagian orang
mengatakan bahwa ilmu bersifat linier-akumulatif, dalam pandangan Kuhn ilmu
bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada kondisi normal yang
kemudian usang “membusuk” karena digantikan oleh ilmu atau pandangan baru.
1. Masa
Normal
Suatu
paradigma yang terdiri dari asumsi-asumsi teoritis yang umum dari hukum-hukum
serta teknik-teknik agar penerapanya diterima oleh para masyarakat ilmiah.
2. Masa
Krisis
Dalam
masa normal, seringkali ada permasalahan yang tidak terselesaikan dan banyak
diantaranya amat penting menurut asumsi ilmuwan. Yang pada akhirnya akan muncul
keganjilan, ketidaksepakatan dan penyimpangan dari hal-hal yang biasa. Karena
adanya krisis, suatu masyarakat ilmiah akan berusaha menyelesaikan krisis
tersebut, hal inilah yang disebut proses sains luar biasa. Pada proses sains
luar biasa ini, masyarakat ilmiah akan dihadapkan pada dua pilihan, apakah akan
kembali pada cara-cara lama atau berpindah pada sebuah paradigma baru, jika
memilih yang kedua maka terjadilah apa yang disebut Kuhn “Revolusi Ilmiah”.
3. Revolusi
Ilmiah
Revolusi
Ilmiah merupakan episode perkembangan non-komulatif, dimana paradigma lama
diganti sebagian atau seluruhnya dengan paradigma baru yang bertentangan. Oleh
karena itu menurut Kuhn perkembangan ilmu itu tidak secara komulatif atau
evolusioner, tetapi secara revolusioner yakni membuang paradigma lama dan
mengambil paradigma baru yang berlawanan. Paradigma baru tersebut dianggap dan
diyakini lebih dapat memecahkan masalah untuk masa depan.
Apabila
paradigma baru dapat diterima dan dapat bertahan dalam kurun waktu tertentu,
maka ilmu tersebut akan menjadi ilmu normal yang baru, dan kemungkinan akan
ditemukan anomali-anomali dan terjadi krisis baru begitu seterusnya. Menurutnya
tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan. Sehingga
konsekuensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari
satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi.
III.
OBJEK MATERIAL DAN OBJEK FORMAL
A.Objek Material Filsafat Ilmu
Objek
Material filsafat ilmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang
telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Dalam gejala ini jelas ada tiga
hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat. Maka ada filsafat tentang
manusia (antropologi), filsafat tentang alam (kosmologi), dan filsafat tentang
akhirat (teologi – filsafat ketuhanan dalam konteks hidup beriman dapat dengan
mudah diganti dengan kata Tuhan). Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun
kelihatan terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu
pastilah tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Menurut Drs. H.A.Dardiri bahwa
objek material adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada
dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Segala sesuatu yang ada itu di
bagi dua, yaitu :
1.Ada yang bersifat umum
(ontologi), yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya.
2.Ada yang bersifat khusus yang
terbagi dua yaitu ada secara mutlak (theodicae) dan tidak mutlak yang terdiri
dari manusia (antropologi metafisik) dan alam (kosmologi).
Dalam objek
material filsafat juga ada beberapa pengertian:
1. Segala bentuk pemikiran manusia tentang
sesuatu yang ada dan mungkin ada.
2. Segala
persoalan pokok yang dihadapi manusia saat dia berpikir tentang dirinya.
3.Segala
pengetahuan manusia serta apa yang ingin diketahui manusia.
Dalam hal
ini permasalahan yang dikaji oleh filsafat meliputi:
1. Logika ( benar
dan salah )
2. Etika ( baik dan buruk )
3. Estetika ( indah dan jelek )
4. Metafisika (zat dan pikiran )
5. Politik ( organisasi pemerintahan yang ideal).
B.Objek
Formal Filsafat Ilmu
Objek formal filsafat ilmu adalah sudut pandang dari mana sang
subjek menelaah objek materialnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat
ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem
mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara
memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fingsi ilmu itu bagi manusia. Problem
inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni
landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Objek formal filsafat ilmu
merupakan sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau
pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot.
C. Perbedaaan Objek Formal dan Objek Material
Objek Material
|
Objek Formal
|
-
Objek material filsafat merupakan suatu bahan yang menjadi tinjauan
penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di
pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik
hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
-
Bersifat universal (umum), yaitu
segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek formal filsafat ilmu
(pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris.
|
- Tidak terbatas pada apa
yang mampu diindrawi saja, melainkan seluruh hakikat sesuatu baik yang nyata
maupun yang abstrak.
- Menyelidiki segala sesuatu itu guna mengerti sedalam
dalamnya, atau mengerti obyek material itu secara hakiki, mengerti kodrat
segala sesuatu itu secara mendalam (to know the nature of everything).
|
IV.
TEORI PENGETAHUAN MODERN
Menurut Prof DR. M. J. Langerveld, Guru
besar pada Rijk University di Utrecht
(Belanda) Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal
tertentu, yang merupakan kesatuan sistematis dan memberikan penjelasan yang
sistematis yang dapat dipertanggung jawabkan dengan sebab-sebab suatu kejadian.
Rasa
ingin tahu manusia yang terus berkembang sebagai hasil perkembangan pola pikir
manusia yang terakumulasi dari hasil pengamatan dan pengalaman telah mendorong
manusia untuk melahirkan pendekatan kebenaran yang tidak hanya mengandalkan
kemampuan rasio belaka, dorongan tersebut setidaknya terdiri dari dua sisi;
yakni dorongan pertama adalah dorongan untuk memuaskan diri sendiri yang
sifatnya non praktis atau teoritis guna memenuhi kuriositas dan memahami
tentang hakikat alam semesta dan segala isinya, yang selanjutnya melahirkan
pure science (Ilmu pengetahuan murni). Sementara dorongan yang ke-dua adalah
dorongan yang sifatnya praktis, dimana ilmu pengetahuan dimanfaatkan untuk
meningkatkan tarap hidup yang lebih tinggi, dan selanjutnya disebut dengan
Applied science (Ilmu pengetahuan terapan/teknologi). Kedua dorongan inilah
yang memicu manusia untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang menjadi
titik awal lahirnya pengetahuan alamiah modern yang semakin berkembang dari
zaman ke zaman.
Perkembangan
ilmu pengetahuan pada zaman modern ini sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman
Renaissance. Renaissance sering diartikan denagn kebangkitan, peralihan, atau
lahir kembali (rebirth), yaitu di lahirkan kembali sebagai manusia yang bebas
untuk berpikir , dan jauh dari ajaran-ajaran agama. Jadi, zaman Modern filsafat
didahului oleh zaman Renaissance. Sebenarnya secara esensial zaman Renaissance
itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari zaman modern. Ciri-ciri filsafat
Renaissance ada pada filsafat modern. Filsafat modern menampakkan
karakteristiknya dengan lahirnya aneka aliran-aliran besar filsafat, yang
diawali oleh Rasionalisme dan Empirisme dan Kriticisme. Selain ketiga aliran
itu, juga akan diketengahkan aliran-aliran besar lainnya yang ikut berperan
mengisi lembaran filsafat modern, yaitu idealisme, materialisme, positivisme,
fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme.
Filsafat
abad modern pada pokoknya ada 3 aliran:
1) Aliran Rasionalisme dengan
tokohnya Rene Descartes (1596-1650 M).
2) Aliran Empirisme dengan
tokohnya Francis Bacon (1210-1292 M).
3) Aliran Kriticisme dengan
tokohnya Immanuel Kant (1724-1804 M).
Para
filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci
atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia
sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat.
Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio:
kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini
pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi.
Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda
itu.
Aliran-Aliran Yang Muncul Pada Zaman Modern Beserta
Tokoh-Tokohnya Serta Pemikirannya
Rasionalisme
Aliran rasionalisme ada dua macam
yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama
aliran rasionalisme adalah
lawan dari autoritas dan
biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sedangkan dalam bidang
filsafat, rasionalisme adalah
lawan dari empirisme dan
sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan. Jika empirisme mengatakan bahwa
pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui obyek empirisme, maka rasionalisme mengajarkan bahwa
pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir, pengetahuan dari empirisme dianggap sering
menyesatkan. Adapun alat berpikir adalah kaidah-kaidah yang logis.
Sejarah rasionalisme sudah tua sekali.
Thales telah menerapkan rasionalisme dalam
filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas sekali pada orang-orang sofis dan
tokoh-tokoh penentangnya (Socrates, Plato, Aristoteles), dan juga beberapa
tokoh sesudah itu. Pada zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme ialah Descartes
yang dibicarakan setelah ini. Bersamaan dengan itu akan dibicarakan juga tokoh
besar rasionalisme lainnya,
yaitu Baruch Spinoza dan Leibniz. Setelah periode ini rasionalisme dikembangkan secara
sempurna oleh Hegel yang kemudian terkenal sebagai tokoh rasionalisme dalam sejarah.
Di
dalam karangan ini rasionalisme dilihat
terutama sebagai reaksi terhadap dominasi Gereja pada Abad Pertengahan Kristen
di Barat. Sebagaimana nanti dapat dilihat, pada konteks itulah kepentingan
Descartes dibicarakan agak panjang lebar di sini. Descartes lebih diperhatikan
karena ada keistimewaan padanya: keberaniannya melepaskan diri dari kerangkeng
yang mengurung filosof Abad Pertengahan.
Empirisme
Istilah empirisme berasal dari
kata empiri yang
berarti indra atau alat indra, dan ditambah akhiran isme, sebagai suatu aliran yang
berpendapat bahwa pengetahuan/kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui
akal, melainkan diperoleh/bersumber dari panca indra manusia, yaitu mata,
lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu
yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Untuk
memahami inti filsafat Empirisme perlu
memahami dulu dua ciri pokok Empirisme,
yaitu mengenai teori makna dan teori tentang pengetahuan.
Teori
makna pada aliran empirisme biasanya
dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau
konsep. Teori yang kedua, yaitu teori pengetahuan, dapat diringkaskan sebagai
berikut. Menurut orang rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti “setiap
kejadian tentu mempunyai sebab”, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip
dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal
dengan istilah kebenaran a priori yang
diperoleh lewat intuisi rasional. Empirisisme menolak pendapat itu. Tidak ada
kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah
kebenaran yang diperoleh lewat observasi jadi ia kebenaran a posteriori.
Kritikisme
Aliran
ini mencoba untuk memadukan perbedaan pendapat kedua aliran tersebut dengan
tokohnya adalah Immanuel Kant
(1724-1804). Ia mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua
pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing
pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan
kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada
faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar
kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan
konsepsi manusia tentang dunia.
Untuk
menghilangkan pertentangan di antara rasionalisme dan empirisme, Kant mengadakan pemaduan di antara dua aliran ini
dalam hal perumusan kebenaran. Dalam kaitan ini Kant mengatakan:
Pengetahuan merupakan hasil kerjasama dua unsur;
pengalaman dan kearifan akal budi. Pengalaman inderawi merupakan unsur a
posteriori (yang datang kemudian), sedangkan akal budi merupakan unsur a
priori (yang datang lebih dahulu).
Kant
mengkritik Empirisme dan Rasionalisme, karena keduanya hanya
mementingkan satu dari dua unsur ini, sehingga hasilnya setiap kali berat
sebelah. Padahal, katanya, pengetahuan selalu merupakan sintesis.
Untuk menekan pertentangan itu Kant
megadakan tiga pembedaan perumusan kebenaran, yaitu akal budi (verstand), rasio (vernunft) dan pengalaman inderawi.
Idealisme
Terma idealisme berasal dari
kata idea yang
berarti gambaran atau pemikiran, dan isme yang berarti paham atau pendapat. Idealisme ialah
suatu pandangan dunia atau metafisika yang menyatakan bahwa realitas dasar
terdiri atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, pikiran atau jiwa. Atau
bisa disebut dengan aliran filsafat yang menjelaskan bahwa
kebenaran/pengetahuan sesungguhnya bukan bersumber dari rasio atau empiri, melainkan dari gambaran
manusia tentang suatu pengamatan.
Materialisme
Berasal
dari “materi” yang berarti benda. Materialisme adalah
aliran filsafat yang berpendapat bahwa, kebenaran tidaklah ditentukan oleh
gambaran, melainkan oleh benda dan seluruh kenyataan yang ada dirumuskan dan
ditentukan oleh benda. Aliran ini memandang bahwa realitas seluruhnya adalah
materi belaka.
Positivisme
Istilah
positivisme berasal dari kata “positive” yang berarti “jelas dan bisa
digambarkan serta bermanfaat”. Positivisme adalah
aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif. Sesuatu di luar fakta
atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan.
Menurut
aliran ini, pemikiran manusia mengalami perkembangan, mulai dari yang sangat
sederhana, sampai yang modern, yaitu positif. Pada tahap ini manusia hanya
mempercayai yang riil saja berdasarkan ilmu positif (science positive) yang didasarkan pada pengamatan (observasi) dan percobaan langsung (eksperimentasi). Melalui dua
pembuktian ini, segala yang berbau metafisis dibuang, karena tidak bisa
dibuktikan dengan dua pendekatan tersebut.
Tokoh
aliran ini adalah Auguste
Comte (1798-1857), ia berpendapat bahwa indera itu amat penting
dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan
diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat
eksperimen.
Jadi
pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia
hanya menyempurnakan Empirisme dan Rasionalisme yang bekerja sama.
Dengan kata lain, ia menyempurnakan metoda ilmiah dengan memasukkan perlunya
eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan Empirisme plus Rasionalisme.
Fenomenologi
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa
Yunani phainomenon yang
mengandung tiga pengertian saling terkait, yaitu “yang langsung nampak, sesuatu
yang langsung menampakkan diri tetapi masih terselubung dan proses
penampakkan”. Berpijak pada tiga pengertian di atas, maka fenomenologi menurut
istilah yang dikembangkan ialah “filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran
merupakan hasil deskripsi intuitif manusia terhadap suatu obyek sesuai dengan
penampakan diri (fenomena) obyek tersebut”.
Jadi
aliran ini berbeda dengan rasionalisme (subyektif), empirisme (obyektif) dan
idealisme (idealistik). Maka fenomenologi menggabungkan di antara subyek
(manusia), obyek (yang diamati) dengan cara pengamatan secara intuitif.
Eksistensialisme
Istilah eksistensialisme berasal dari
kata eksistensi dari
kata dasar exist.
Kata exist itu
sendiri adalaha bahasa Latin yang artinya: ex; keluar dan sistare;
berdiri. Jadi eksistensi adalah
berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Secara umum eksistensialisme
dimaksudkan sebagai aliran filsafat yang membicarakan keberadaan segala
sesuatu, termasuk manusia. Permasalahannya ialah, siapakah yang benar-benar
berada (bereksistensi); apakah manusia, atau Tuhan atau kedua-duanya.
Pragmatisme
Pragmatisme
berasal dari kata pragma (bahasa
Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan, dan juga manfaat. Pragmatisme adalah
aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah,
apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Oleh sebab itu
kebenaran sifatnya menjadi relative tidak mutlak.









0 komentar:
Posting Komentar